Minggu, 30 November 2025
Beranda / Berita / Aceh / Desa Pantee Lhong Bireuen Masih Terisolasi Usai Banjir, Warga Bertahan Tanpa Bantuan

Desa Pantee Lhong Bireuen Masih Terisolasi Usai Banjir, Warga Bertahan Tanpa Bantuan

Sabtu, 29 November 2025 23:15 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Nawaffis Shafin

Rumah warga di Desa Pantee Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen masih dipenuhi lumpur tebal sisa banjir. [Foto: dokumen dari Nawaffis Shafin]


DIALEKSIS.COM | Bireuen - Hingga hari ini, Desa Pantee Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen masih menjadi salah satu titik terdampak banjir paling parah yang belum tersentuh bantuan memadai. Warga terpaksa bertahan di tempat pengungsian karena rumah-rumah mereka masih dipenuhi lumpur tebal sisa banjir.

Sejumlah warga mengaku tidak dapat kembali membersihkan rumah karena belum adanya alat berat yang masuk ke desa untuk mengeruk material lumpur dan sampah yang menumpuk pascabanjir.

Beberapa akses jalan juga masih sulit dilalui, membuat proses evakuasi dan penyaluran logistik terhambat.

Keuchik Pantee Lhong, Murizal Haryanto mengatakan Jumlah korban 343 KK, Jumlah Jiwa : 1.359 Jiwa, Jumlah Rumah 321 Rumah dan Korban Jiwa 2 Orang.

“Yang kami butuhkan sekarang bukan hanya makanan, tapi alat berat untuk membersihkan desa kami. Kami tidak bisa mulai membangun kalau lumpurnya masih setinggi ini,” ungkap Murizal, Sabtu (29/11/2025).

Kondisi ini membuat warga merasa terabaikan, sebab hingga hari kelima pascabanjir, belum ada kepastian kapan bantuan akan datang. Anak-anak, lansia, dan ibu-ibu masih bertahan di tenda darurat dengan fasilitas seadanya, sementara rumah mereka belum bisa ditempati.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan, mengirimkan bantuan dan alat berat agar proses pemulihan dapat segera dimulai. Pemerintah daerah maupun provinsi harus segera menurunkan bantuan nyata, bukan hanya pendataan.

Mereka menegaskan bahwa kebutuhan mendesak saat ini adalah alat berat, tenaga relawan, air bersih, serta tempat tinggal sementara yang lebih layak. Selain itu, warga juga meminta adanya posko kesehatan karena mulai muncul keluhan penyakit kulit dan demam pada anak-anak sejak banjir surut.

“Kami tidak ingin hanya didata, kami ingin dibantu. Rumah kami tertimbun lumpur, anak-anak mulai sakit, dan kami tidak tahu kapan bisa kembali ke kehidupan normal,” ujar seorang ibu pengungsi yang kini tidur di tenda darurat.

Menurut mereka, keterlambatan penanganan hanya akan memperpanjang penderitaan warga dan memperbesar risiko kesehatan bagi para pengungsi. [ns]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI