DIALEKSIS.COM | Celoteh Warga - Tanpa mengecilkan peran siapa pun, izinkan saya mengatakan: bahwa Ibu Susi adalah anak mudanya! Saat pertama kali mendengar kabar banjir dan longsor melanda wilayah Tengah Aceh, bayangan saya langsung tertuju pada beratnya medan menuju Kota Takengon, Aceh Tengah.
Dalam benak saya, pilihan paling mungkin adalah mendarat di Bandara Lhokseumawe, lalu melanjutkan perjalanan dengan RBT (ojek) secara sambung - menyambung hingga perbatasan Aceh Utara - Bener Meriah, sebelum akhirnya menempuh jalur darat menuju Takengon.
Namun ternyata, semuanya jauh lebih sulit dari yang saya perkirakan. Banjir mengepung kawasan Bandara Lhokseumawe, akses jalan KKA terputus, sementara dari jalur Bireuen - Takengon, sejumlah jembatan nasional ambruk. Melihat tingkat kerusakannya, kita tahu bahwa perbaikan akan memakan waktu berbulan-bulan. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat air bersih, makanan, energi semakin mendesak dan tidak bisa menunggu.
Dalam situasi itu, tak ada alternatif lain. Satu-satunya jalan untuk tiba di Aceh Tengah adalah jalur udara, dan satu-satunya pesawat yang melayani penerbangan menuju Bandara Rembele adalah maskapai milik Ibu Susi: Susi Air.
Meski penerbangan saya sempat ditunda dua kali, saya tetap berharap bisa terbang pulang pada Minggu pagi. Kondisi keluarga di rumah juga memprihatinkan air bersih menipis, stok makanan menurun, dan kesehatan mulai terganggu.
Di tengah situasi itu, saya mendapat kabar dari pihak maskapai bahwa pada hari Minggu akan ada dua penerbangan menuju Bandara Rembele. Ini adalah kabar yang sangat melegakan. Saya melihat betul bagaimana Ibu Susi begitu peka terhadap kondisi rakyat Gayo yang sedang berjuang di tengah bencana.
Kami benar-benar berterima kasih atas peran besar maskapai Ibu dalam masa sulit ini. Dulu, saat tsunami menerjang Aceh, setahu saya pesawat Ibu pula yang pertama kali menyentuh wilayah Aceh Barat dan sekitarnya.
Terima kasih, Ibu Susi, karena telah mendengar keluhan dan kebutuhan kami khususnya masyarakat Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kami sangat berharap, dalam situasi bencana ini, penerbangan ke Rembele dapat terus dipertahankan dua kali sehari hingga keadaan kembali normal.
Dan yang lebih luar biasa, harga tiket tetap normal, tanpa kenaikan sama sekali. Dalam masa darurat seperti ini, kebijakan itu sungguh berarti bagi kami.
Nanti, saya akan bercerita tentang salah satu orang yang berkesempatan mendarat pertama kali setelah bencana ini melanda wilayah Tengah Aceh.
Sehat selalu, Ibu @susipudjiastuti115. Terima kasih karena selalu hadir saat rakyat membutuhkan.
Penulis: Waladan Yoga warga Aceh Tengah sekaligus Ketua Panwaslih Aceh Tengah