DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Bakal calon Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026-2031,Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU, memaparkan visi, misi, dan program kerja di hadapan Majelis Wali Amanat (MWA) serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Pemaparan itu menjadi bagian dari tahapan seleksi penyaringan calon pimpinan USK lima tahun mendatang.
Agussabti menawarkan visi menjadikan USK sebagai universitas sosio-teknopreneur yang inovatif dan mandiri, dengan pijakan pada kearifan lokal Aceh serta berorientasi pada dampak nasional dan reputasi global. Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
“USK harus menjadi kampus yang berdampak, bukan sekadar menghasilkan lulusan, tetapi juga inovasi dan kontribusi langsung bagi pembangunan,” kata Agussabti dalam paparannya yang disimak Dialeksis.com di chanel youtube Universitas Syiah Kuala, Senin (12/1/2026).
Visi tersebut dijabarkan ke dalam lima misi utama. Misi pertama menekankan pendidikan berkualitas dan inklusif. Agussabti menilai dunia pendidikan tinggi menghadapi tantangan besar dalam membangun atmosfer akademik yang adaptif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.
Ia mendorong modernisasi tata kelola akademik, penerapan Outcome Based Education (OBE), peningkatan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan, serta perluasan akses pendidikan melalui skema beasiswa inklusif.
Misi kedua berfokus pada pengabdian kepada masyarakat berbasis hasil penelitian. Agussabti menyoroti masih lemahnya keterkaitan riset dengan pengabdian. Untuk itu, ia mengusulkan pembentukan klaster model USK berdampak sebagai wadah hilirisasi riset dan komersialisasi inovasi melalui kemitraan dengan pemerintah, industri, dan masyarakat.
Langkah tersebut, menurut dia, penting untuk meningkatkan relevansi riset sekaligus memperkuat kontribusi USK terhadap pembangunan daerah dan nasional.
Pada misi ketiga, Agussabti menggarisbawahi pentingnya good governance dan kepemimpinan transformasional. Ia menilai tata kelola USK masih perlu diperkuat, terutama dalam aspek manajemen risiko, transparansi, dan layanan publik.
Transformasi digital, pengembangan sistem One Data USK, serta penguatan pengawasan internal menjadi strategi utama untuk meningkatkan kinerja organisasi dan akuntabilitas institusi.
Misi keempat diarahkan pada penguatan jejaring alumni dan mitra strategis. Agussabti menilai peran alumni USK belum optimal dalam mendorong daya saing dan reputasi global kampus. Karena itu, ia mendorong pembangunan basis data alumni terintegrasi, sistem pemantauan karier, serta penguatan kerja sama nasional dan internasional berbasis inovasi dan keunggulan Aceh.
Sementara itu, misi kelima menargetkan peningkatan income generating, kemandirian finansial, dan kesejahteraan sivitas akademika. Agussabti mengusulkan reformasi tata kelola bisnis USK, optimalisasi aset, penguatan holding company, hingga pengembangan kawasan bisnis berbasis kemitraan.
Ia juga menyinggung rencana pembangunan rumah sakit pendidikan dan tower asrama mahasiswa sebagai bagian dari penguatan layanan dan sumber pendapatan institusi.
Untuk memastikan seluruh program berjalan efektif, Agussabti menekankan pentingnya monitoring, evaluasi, dan mitigasi risiko. Ia mengusulkan penggunaan matriks risiko dan kerangka kerja RASCI guna memperjelas peran, tanggung jawab, serta akuntabilitas dalam setiap program kerja.
Agussabti menyatakan komitmennya membawa USK menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan, berdaya saing, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat Aceh dan Indonesia. [ra]