Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Air Bersih dan Sanitasi Jadi Masalah Serius di Pengungsian Pascabanjir Aceh

Air Bersih dan Sanitasi Jadi Masalah Serius di Pengungsian Pascabanjir Aceh

Selasa, 20 Januari 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Koordinator Lapangan Yayasan Geutanyo Aceh, Iskandar. Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kondisi camp pengungsian pascabanjir di sejumlah wilayah Aceh masih memprihatinkan. Berbagai persoalan mendasar seperti sanitasi, ketersediaan air bersih, hingga potensi munculnya penyakit mulai dirasakan para pengungsi.

Koordinator Lapangan Yayasan Geutanyo Aceh, Iskandar, mengatakan bahwa persoalan sanitasi menjadi masalah hampir di seluruh lokasi pengungsian, meskipun tingkat keparahannya berbeda-beda antara satu camp dengan camp lainnya.

“Masalah sanitasi hampir pasti ada di semua camp pengungsian. Terutama di daerah atau kecamatan yang lumpurnya masih belum dibersihkan dari selokan. Bahkan ada camp yang saluran sanitasinya tidak jelas dialirkan ke mana,” ujar Iskandar kepada media dialeksis.com, Selasa, 20 Januari 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius jika tidak segera ditangani. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan dan puskesmas, untuk turun langsung ke lapangan.

“Pemerintah melalui dinas kesehatan dan puskesmas yang berada di garda terdepan harus segera melakukan cross check terhadap kondisi sanitasi di setiap camp pengungsian,” tegasnya.

Selain sanitasi, ketersediaan air bersih juga masih menjadi persoalan krusial. Iskandar menjelaskan bahwa kondisi pasokan air bersih berbeda di tiap lokasi pengungsian.

“Di beberapa daerah seperti Langkahan, air bersih sudah disuplai menggunakan mobil RO milik TNI. Namun warga masih membutuhkan galon untuk menampung air siap minum,” jelasnya.

Sementara itu, di wilayah lain, air bersih siap konsumsi masih menjadi kendala utama. Iskandar menyebutkan ada desa yang tidak memiliki jaringan PDAM, sementara sumur warga belum dapat digunakan meski telah dikuras pascabanjir.

“Air untuk kebutuhan sehari-hari harus menjadi fokus utama dalam pemulihan pascabanjir. Tanpa air bersih, risiko penyakit akan semakin besar,” katanya.

Terkait kondisi kesehatan pengungsi, Iskandar menyebutkan bahwa gejala penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), gatal-gatal, demam, dan pilek sudah mulai muncul.

“Kalau ISPA itu sudah pasti, begitu juga penyakit kulit seperti gatal-gatal. Demam dan pilek juga mulai banyak dikeluhkan,” ungkapnya.

Ia meminta agar Dinas Kesehatan tidak menunggu pengungsi datang ke puskesmas, melainkan aktif melakukan pemeriksaan rutin di lokasi pengungsian.

“Dinkes harus menjemput bola. Jangan menunggu pengungsi sakit baru ditangani. Pemeriksaan kesehatan rutin di camp pengungsian sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih parah,” pungkas Iskandar.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI