Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Dua Bulan Banjir Aceh, Suplemen dan Perlengkapan Pribadi Jadi Kebutuhan Mendesak Pengungsi

Dua Bulan Banjir Aceh, Suplemen dan Perlengkapan Pribadi Jadi Kebutuhan Mendesak Pengungsi

Minggu, 25 Januari 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kepala Cabang Rumah Zakat Aceh, Riadhi. Dokumen untuk dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dua bulan pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November 2025 lalu, kondisi para penyintas di lokasi pengungsian masih masa pemulihan dan kebutuhan dasar korban bencana harus diperhatikan. 

Kepala Cabang Rumah Zakat Aceh, Riadhi, mengatakan bahwa banyak pengungsi masih bertahan di tenda darurat dan pos pengungsian dengan keterbatasan fasilitas. 

Bantuan yang datang di awal bencana umumnya berupa logistik makanan, namun kebutuhan lanjutan justru semakin mendesak seiring waktu.

“Kalau ditanya kebutuhan paling mendesak saat ini, justru bukan lagi makanan. Banyak bantuan pangan sudah masuk. Yang sangat dibutuhkan sekarang adalah kebutuhan personal dan kesehatan,” ujar Riadhi saat dimintai tanggapannya oleh media dialeksis.com, Minggu, 25 Januari 2026.

Menurutnya, salah satu kebutuhan utama yang masih minim adalah suplemen kesehatan untuk menjaga daya tahan tubuh para pengungsi, terutama anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Kondisi cuaca lembap, sanitasi terbatas, serta kelelahan fisik membuat pengungsi rentan terserang penyakit.

Selain itu, bahan habis pakai seperti sabun mandi, sampo, pasta gigi, pembalut, popok bayi, dan perlengkapan kebersihan lainnya juga sangat dibutuhkan. 

Riadhi menegaskan, bantuan jenis ini cepat habis namun sangat krusial untuk menjaga kesehatan dan kebersihan di pengungsian.

"Banyak pengungsi kehilangan seluruh barang pribadinya saat banjir, termasuk pakaian dalam. Ini kebutuhan dasar, tapi sering dianggap sepele,” katanya.

Kondisi tempat tinggal sementara yang masih rawan nyamuk turut meningkatkan risiko penyakit seperti demam berdarah dan malaria. 

Oleh karena itu, kelambu menjadi salah satu kebutuhan mendesak, khususnya bagi anak-anak dan lansia. Di samping itu, ketersediaan obat-obatan luar seperti salep gatal, obat luka, minyak gosok, dan antiseptik juga masih sangat terbatas.

Tak hanya kebutuhan fisik, Riadhi menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan spiritual bagi para korban bencana. Di tengah kondisi sulit dan trauma pascabencana, aktivitas ibadah menjadi sumber kekuatan mental bagi para pengungsi.

“Perlengkapan salat seperti Al-Qur’an, buku-buku sirah atau sejarah Islam, mukena, dan sarung sangat dibutuhkan apalagi ini menjelang bulan suci Ramadan,” jelasnya.

Ia menambahkan, bagi para pengungsi, ibadah bukan hanya kewajiban, tetapi juga sarana menenangkan diri dan memulihkan semangat hidup setelah kehilangan harta benda, bahkan anggota keluarga.

Rumah Zakat Aceh hingga kini masih aktif menyalurkan bantuan dan melakukan pendampingan di sejumlah wilayah terdampak. Namun Riadhi mengakui, dukungan dari masyarakat luas masih sangat dibutuhkan, terutama untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah dan panjang para penyintas.

“Kami mengajak masyarakat untuk tidak melupakan saudara-saudara kita di pengungsian, kebutuhan mereka masih nyata dan mendesak,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI