DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Influencer, Kreator konten, pelukis, sekaligus pengusaha muda Indonesia, Erika Richardo, membagikan pengalaman pertamanya selama berkunjung ke Aceh. Melalui unggahan video di media sosialnya, Erika mengaku banyak menemukan hal-hal yang mengejutkan sekaligus berkesan selama berada di Tanah Rencong.
Sebagai seorang non-Muslim, Erika mengaku awalnya memiliki sejumlah anggapan tentang Aceh yang ternyata berbeda dengan kenyataan yang ia temui langsung.
"Sebagai non-Muslim, aku pengin ceritain pengalaman aku yang bikin kaget selama pergi ke Aceh," ujar Erika membuka ceritanya yang disitat media dialeksis.com, Minggu, 2 Agustus 2026 di akun instagram miliknya.
Perempuan yang dikenal gemar melukis di berbagai media, mulai dari pesawat hingga kereta api itu, mengatakan salah satu hal yang membuatnya terkejut adalah soal aturan berpakaian.
Ia mengira seluruh pengunjung perempuan di Aceh diwajibkan mengenakan penutup kepala. Namun setelah berada di sana, ia mengetahui bahwa ketentuan tersebut tidak berlaku bagi non-Muslim.
"Aku pikir semua orang yang ke Aceh harus pakai penutup kepala. Ternyata non-Muslim tidak apa-apa kalau tidak memakai. Tapi karena hampir setiap hari aku ada acara, jadi rasanya lebih nyaman tetap memakai," katanya.
Pengalaman lain yang menurutnya sangat unik terjadi saat berada di Kabupaten Bireuen. Ketika sedang memesan makanan di sebuah restoran, waktu Maghrib tiba dan restoran tersebut menghentikan pelayanan sementara.
"Aku lagi pesan makanan banyak, terus pas Maghrib restoran langsung close order sampai ibadah selesai baru buka lagi. Bahkan aku lihat di mal depan lampunya juga dimatikan sekitar satu jam. Menurutku itu unik dan menarik," ungkapnya.
Tak hanya itu, Erika juga memuji cita rasa kuliner khas Aceh. Menurutnya, hampir semua makanan yang ia cicipi memiliki rasa yang lezat.
"Mie Aceh enak banget. Ayam tangkap juga enak banget. Sekali makan ayam tangkap bisa habis tiga porsi," ujarnya sambil tertawa.
Meski sempat mencoba kopi lemon yang cukup populer, Erika mengaku bukan penikmat kopi sehingga minuman tersebut kurang sesuai dengan seleranya.
Selain kuliner, keramahan masyarakat Aceh menjadi kesan yang paling membekas baginya. Selama berada di Bireuen maupun Banda Aceh, ia merasakan masyarakat berbicara dengan tenang, ramah, dan bersikap baik kepada para tamu.
"Orang-orang Aceh itu tenang banget, baik-baik semua, ramah semua. Shout out buat orang-orang Aceh, kalian luar biasa," katanya.
Erika juga menyoroti kondisi alam Aceh yang menurutnya berbeda dengan Jakarta. Ia merasa matahari di Aceh masih cukup terang hingga sekitar pukul 19.00 WIB, sesuatu yang jarang ia rasakan di ibu kota.
Di sisi lain, kunjungannya ke Banda Aceh juga menjadi momen refleksi ketika melihat kapal yang masih berada di atas bangunan sebagai saksi dahsyatnya tsunami Aceh 2004.
"Yang bikin aku kaget adalah melihat ada perahu di atas rumah. Itu bekas tsunami tahun 2004," ucapnya.
Puncak kekagumannya muncul ketika mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman. Menurut Erika, masjid kebanggaan masyarakat Aceh tersebut merupakan salah satu masjid terindah yang pernah ia kunjungi di Indonesia.
"Aku suka banget ke masjid-masjid di Indonesia, tapi pas lihat Masjid Raya Baiturrahman, aku berkali-kali bilang, 'Ini cantik banget.' Arsitekturnya luar biasa. Jauh ini rating aku 10 dari 10," tuturnya.
Erika mengaku sangat menikmati seluruh pengalamannya selama berada di Aceh. Ia bahkan berharap dapat kembali mengunjungi provinsi paling barat Indonesia itu pada kesempatan berikutnya.
"Aku happy setiap hari selama di Aceh. Aku kepikiran buat balik lagi suatu hari nanti. Jadi tolong rekomendasikan tempat-tempat lain di Aceh. Ditunggu kedatangan Erika lagi," pungkasnya.