Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Isu Bantuan Diaspora Aceh Malaysia Dijual, Datuk Mansyur: Tak Betul Itu Semua

Isu Bantuan Diaspora Aceh Malaysia Dijual, Datuk Mansyur: Tak Betul Itu Semua

Jum`at, 03 April 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Berdasarkan poster yang beredar bahwa masyarakat Aceh yang berada di Malaysia meminta transparansi bantuan masyarakat Aceh untuk korban Bencana Aceh yang dikelola oleh Yayasan Sabena Aceh Malaya. Foto istimewa.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Terkait dugaan penjualan bantuan kemanusiaan untuk korban banjir di Aceh yang dihimpun dari masyarakat diaspora di Malaysia akhirnya mendapat tanggapan langsung dari Datuk Mansyur Usman.

Menjawab pertanyaan wartawan Dialeksis.com terkait isu yang ramai beredar di media sosial, Presiden Permebam (Persatuan Melayu Berketurunan Aceh Malaysia) itu dengan tegas membantah tudingan tersebut.

“Tak betul itu semua,” ujar Mansyur singkat kepada media dialeksis.com, Jumat, 3 April 2026.

Dialeksis.com kemudian mengajukan pertanyaan langsung kepada Datuk Mansyur Usman terkait kejelasan pengumpulan bantuan dari masyarakat Aceh di Malaysia.

“Izin Pak, apakah benar Bapak ada mengumpulkan bantuan dari Malaysia untuk korban bencana banjir dan longsor di Aceh, baik dalam bentuk barang maupun uang tunai?” tanya wartawan Dialeksis.com.

Ia menjawab bahwa selama ini bantuan yang dihimpun dari masyarakat Aceh di Malaysia tidak pernah dalam bentuk pengumpulan uang tunai secara terpusat oleh pihaknya. Bantuan yang dikelola, kata dia, murni berupa barang kebutuhan pokok.

“Uang tunai tidak dikumpul, cuma barang sembako saja. Kalau ada yang menyumbang uang, mereka langsung kirimkan ke keluarga masing-masing di Aceh,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mansyur mengungkapkan bahwa keterlambatan distribusi bantuan ke Aceh disebabkan faktor teknis pengiriman logistik lintas negara. Ia memastikan seluruh barang bantuan saat ini masih dalam proses pengiriman melalui jalur resmi.

“Sudah empat bulan barang belum lagi dibawakan pulang ke Aceh. Kami telah menyerahkan ke pihak perkapalan. Sekarang barang-barang masih di Port Klang,” ungkapnya.

Sebelumnya, sejumlah elemen masyarakat Aceh di Malaysia mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan bantuan yang selama ini dihimpun untuk korban banjir di Aceh.

Bantuan yang awalnya dikumpulkan dengan semangat kemanusiaan itu disebut-sebut mencakup berbagai kebutuhan pokok, mulai dari minyak goreng, gula pasir, air mineral, beras, hingga tabung gas 3 kilogram di Medan. Tak hanya itu, dana tunai hasil sumbangan warga Aceh dan masyarakat Malaysia juga turut menjadi bagian dari bantuan yang kini dipersoalkan.

Keresahan mencuat setelah adanya dugaan bahwa sebagian dari barang-barang tersebut telah diperjualbelikan. Kondisi ini memicu tuntutan terbuka dari masyarakat agar ada penjelasan yang jujur, rinci, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Warga Aceh di Malaysia mendesak agar seluruh proses pengelolaan bantuan dijelaskan secara tertulis. Mereka meminta kejelasan mengenai jenis barang yang dijual, berapa jumlah keseluruhan yang dilepas, serta ke mana hasil penjualannya digunakan.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI