Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Jelang Idulfitri 1447 H, APEL Green Aceh Soroti Lambannya Pemulihan Bencana Aceh

Jelang Idulfitri 1447 H, APEL Green Aceh Soroti Lambannya Pemulihan Bencana Aceh

Rabu, 18 Maret 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kondisi penyintas banjir di Aceh menjelang hari raya Idulfitri 1447 Hijriah.[ Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah suasana menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah, ribuan warga di Aceh khususnya di Beutong Ateuh justru merayakannya dalam kondisi yang jauh dari layak.

Mereka masih bertahan di tenda-tenda pengungsian setelah banjir bandang menghancurkan rumah dan kehidupan mereka beberapa bulan lalu.

Direktur Yayasan Apel Green Aceh, Rahmat Syukur menilai, kondisi tersebut menjadi cerminan lambannya proses pemulihan pascabencana yang seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah.

“Sulit menyebut ini sebagai hari kemenangan, ketika sebagian masyarakat merayakan Lebaran dengan suka cita, warga di Beutong Ateuh masih menahan luka dan bertahan di pengungsian. Ini bukan sekadar soal bencana, tapi tentang bagaimana pemulihan itu dijalankan," ujarnya kepada media dialeksis.com, Rabu (18/3/2026).

Menurutnya, waktu terus berjalan, namun pemulihan justru tersendat tanpa kepastian yang jelas. Warga, kata dia, dipaksa bertahan dalam kondisi yang sempit dan tidak manusiawi, jauh dari standar kehidupan yang layak.

“Lebaran seharusnya menjadi ruang kebahagiaan dan kebersamaan. Tapi bagi masyarakat Beutong Ateuh, rumah itu bahkan belum kembali mereka miliki. Mereka merayakan hari raya di dalam tenda. Ini bukan sekadar lambannya penanganan, ini kegagalan negara memenuhi hak dasar warganya,” tegasnya.

Rahmat Syukur juga menyoroti janji pembangunan hunian sementara (huntara) yang hingga kini belum sepenuhnya terealisasi. Bahkan, sebagian huntara yang telah dibangun dinilai belum memenuhi standar kelayakan, sehingga banyak keluarga masih memilih bertahan di tenda darurat.

Ia menegaskan, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada pembagian bantuan darurat atau sekadar kunjungan seremonial pejabat. Menurutnya, yang paling penting adalah memastikan pemulihan berjalan nyata, menyeluruh, dan berkeadilan.

“Pemulihan harus berorientasi pada kehidupan korban. Bukan hanya hadir saat awal bencana, lalu perlahan menghilang tanpa kejelasan. Negara harus memastikan masyarakat benar-benar pulih, bukan sekadar bertahan,” katanya.

Kondisi di Beutong Ateuh, lanjutnya, menunjukkan adanya kesenjangan antara janji pemulihan dengan realitas di lapangan. Warga masih hidup dalam ketidakpastian, sementara hari-hari terus berlalu tanpa perubahan signifikan.

“Tidak boleh ada warga yang dipaksa merayakan hari raya di tenda pengungsian karena negara gagal memenuhi tanggung jawabnya. Ini ironi yang tidak bisa kita anggap biasa,” tutupnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI