Selasa, 06 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Kadisdik Aceh Ajak Orang Tua Bangun Mental Mandiri Terhadap Anak

Kadisdik Aceh Ajak Orang Tua Bangun Mental Mandiri Terhadap Anak

Selasa, 06 Oktober 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, mengatakan bahwa generasi muda Aceh semakin kehilangan keberanian untuk merantau dan menghadapi tantangan kehidupan secara mandiri.

Menurut Murthalamuddin, merantau dahulu merupakan bagian dari perjalanan hidup anak muda Aceh setelah memasuki usia dewasa.

Pada usia sekitar 18 tahun, anak-anak muda Aceh tidak lagi takut meninggalkan kampung halaman untuk mencari pengalaman, pekerjaan, maupun kehidupan yang lebih baik.

“Di masa lalu, anak muda Aceh kalau sudah baligh atau berusia 18 tahun, tidak takut lagi menantang dunia. Mereka malah cenderung malu kalau di kampung dan tidak punya pekerjaan yang pasti,” kata Murthalamuddin yang disitat media Dialeksis.com, Selasa (6/10/2026).

Ia mengatakan, keputusan untuk merantau pada masa lalu juga tidak membutuhkan dukungan berlebihan dari orang tua. Anak cukup meminta izin, kemudian berangkat untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

“Umumnya masyarakat Aceh dulunya akan memilih merantau setelah dewasa. Dan itu tidak membutuhkan suatu dukungan yang luar biasa dari orang tua. Cukup dengan izin dan pergi,” ujarnya.

Menurutnya, budaya tersebut membentuk mental anak muda Aceh menjadi lebih mandiri. Mereka terbiasa hidup dalam keterbatasan, bekerja keras, serta menghadapi berbagai persoalan tanpa selalu bergantung kepada keluarga.

Murthalamuddin menggambarkan bagaimana dahulu banyak anak muda Aceh, termasuk dari Pidie, yang merantau dan memulai kehidupan dari bawah. Mereka bahkan rela bekerja bertahun-tahun di tempat usaha milik orang lain hanya untuk mendapatkan makan dan pengalaman.

“Dulu orang-orang Pidie yang merantau ke daerah kita, kita lihat mereka bersedia hanya untuk dapat makan dan duduk bertahun-tahun di tokonya itu yang juga orang Pidie. Hanya dapat dikasih makan,” katanya.

Setelah bertahun-tahun bekerja, lanjutnya, mereka perlahan memiliki kemampuan, pengalaman, dan keberanian untuk membuka usaha sendiri hingga akhirnya hidup mandiri.

“Setelah sekian tahun, ketika mereka sudah bekerja, baru kemudian mereka mendapatkan kebahagiaan. Beberapa tahun kemudian mereka menjadi mandiri dan punya dagang sendiri,” ujarnya.

Namun, menurut Murthalamuddin, pola tersebut kini mulai berubah. Merantau yang sebelumnya dianggap sebagai hal biasa dalam perjalanan menuju kedewasaan, sekarang justru sering dipandang sebagai sesuatu yang istimewa.

“Ini kemudian beralih. Hari ini nyaris tidak ada lagi perilaku itu. Orang hari ini, entah sekolah dan bekerja, pergi merantau menjadi sesuatu yang spesial,” katanya.

Bahkan, ia melihat sebagian orang tua masih terus memberikan perlindungan kepada anak meskipun sang anak sudah berada di luar daerah untuk sekolah maupun bekerja.

“Bahkan setelah mendapat kerja, kita sering melihat orang tua yang masih menjaga anaknya yang pergi merantau, bahkan menjaga cucunya dan lain sebagainya,” ujarnya.

Murthalamuddin menilai perubahan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama, terutama dalam melihat hubungan antara pendidikan, pola asuh keluarga, dan pembentukan karakter anak.

Ia mempertanyakan apakah sistem pendidikan saat ini sudah cukup berhasil membangun kemandirian dan keberanian anak untuk menghadapi kehidupan di luar lingkungan keluarga.

“Perubahan paradigma ini membuat orang Aceh kehilangan daya survival, daya sukses di luar dan cenderung memilih tinggal di kampung,” katanya.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan akademik kepada anak, tetapi juga harus membentuk manusia yang memiliki keberanian, kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan.

“Ternyata pendidikan kita tidak berhasil membangun kemandirian. Pendidikan kita gagal menciptakan manusia yang berani menghadapi dunia, manusia yang siap melawan segala tantangan dan surprise,” tegasnya.

Ia mengatakan, persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Pola asuh keluarga juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

“Cara didik, pola asuh itu menentukan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.

Murthalamuddin kemudian membandingkan pola kehidupan anak-anak Aceh pada masa lalu dengan kondisi saat ini. Menurutnya, dahulu anak-anak sekolah dasar sudah terbiasa bepergian sendiri, bahkan harus menempuh jarak beberapa kilometer untuk menuju sekolah.

Ia tidak bermaksud menolak perhatian orang tua terhadap anak. Namun, menurutnya, perlindungan yang berlebihan justru berpotensi mengurangi kesempatan anak untuk belajar menghadapi persoalan dan mengambil keputusan secara mandiri.

Karena itu, ia mengajak masyarakat Aceh untuk kembali memikirkan bagaimana pola pendidikan dan pengasuhan yang tepat agar generasi muda tidak tumbuh menjadi generasi yang selalu bergantung kepada keluarga.

Ia berharap pendidikan di Aceh ke depan tidak hanya menghasilkan anak-anak yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman, menghadapi dunia, dan membangun masa depannya sendiri.

"Dulu anak-anak SD biasa pergi ke sekolah sendiri berkilo-kilometer. Tapi sekarang ini nyaris tidak ada lagi anak-anak yang tidak diantar atau bahkan diberikan kendaraan bermotor,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI