DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kericuhan antarmahasiswa yang terjadi di lingkungan Universitas Syiah Kuala menuai kecaman dari berbagai pihak.
Bentrokan yang melibatkan mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian pada Kamis (21/5/2026) itu dinilai telah mencoreng nilai-nilai akademik serta merusak marwah kampus sebagai ruang intelektual dan persaudaraan.
Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Pertanian USK, Farid Duha menilai tindakan anarkis yang berujung pada kerusakan fasilitas kampus dan munculnya korban luka menunjukkan semakin memudarnya nilai kemahasiswaan di kalangan mahasiswa.
Menurut Farid, mahasiswa seharusnya menjadi kelompok intelektual yang menjunjung dialog, etika, dan penyelesaian persoalan secara rasional, bukan justru terjebak dalam tindakan kekerasan dan aksi balas dendam.
“Mahasiswa hari ini jangan sampai larut dalam sikap premanisme yang seolah-olah kebal terhadap hukum. Tindakan anarkis bukanlah sikap mahasiswa, melainkan tindakan yang jelas melanggar hukum dan mencederai nilai intelektual yang selama ini kita junjung,” tegas Farid kepada media dialeksis.com, Minggu, 24 Mei 2026.
Ia mengatakan, peristiwa bentrokan tersebut tidak boleh dipandang sebagai konflik spontan semata, melainkan harus diusut secara menyeluruh hingga ke akar persoalan.
Menurutnya, aparat penegak hukum dan pihak kampus harus berani mengungkap siapa saja pihak yang terlibat, baik pelaku lapangan maupun pihak yang diduga menjadi aktor intelektual di balik kericuhan tersebut.
Farid menilai pengungkapan aktor di balik peristiwa itu penting agar kejadian serupa tidak kembali berulang di lingkungan kampus.
“Semua pihak yang terlibat harus diperiksa secara objektif. Jangan hanya berhenti pada pelaku di lapangan, tetapi usut juga siapa yang berada di balik peristiwa ini. Aktor intelektual harus diungkap agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” ujarnya.
Ia meminta aparat keamanan segera mengambil langkah tegas dengan mengamankan pihak-pihak yang diduga terlibat agar proses hukum dapat berjalan secara objektif dan tidak menimbulkan spekulasi di tengah mahasiswa.
“Penyelesaian kasus ini harus terbuka, tegas, dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Semua harus diproses secara adil supaya ada efek jera,” katanya.
Farid juga mengajak seluruh mahasiswa Universitas Syiah Kuala untuk menahan diri dan tidak terpancing memperkeruh keadaan. Ia menyerukan pentingnya membangun kembali konsolidasi perdamaian antarmahasiswa agar aktivitas akademik di kampus dapat kembali berjalan normal.
Menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan memperkuat persaudaraan, bukan arena konflik yang mengedepankan kekerasan.
“Kami mengajak seluruh mahasiswa USK untuk kembali bersatu, menahan diri, dan menyelesaikan persoalan ini dengan kepala dingin. Kampus adalah ruang ilmu, ruang dialog, dan ruang persaudaraan, bukan tempat untuk kekerasan,” ujarnya.
Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh civitas akademika bahwa kekerasan tidak pernah menjadi solusi dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan pendidikan tinggi.
“Sudah saatnya mahasiswa kembali ke nilai-nilai perjuangan, intelektualitas, dan persaudaraan. Kita harus menjaga USK tetap menjadi lingkungan akademik yang aman, damai, dan bermartabat,” tutup Farid Duha.