Jum`at, 19 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / LK Ara Baca Puisi tentang Tambang, Ingatkan Kerusakan Ekologi

LK Ara Baca Puisi tentang Tambang, Ingatkan Kerusakan Ekologi

Kamis, 18 Juni 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penyair Aceh, LK Ara, membaca puisi bertema lingkungan dalam diskusi seniman Aceh bersama komunitas SKATE PARK STAGE Banda Aceh di Sophi Sunset Coffee, Geuceu, Banda Aceh, Rabu (17/6/2026). Foto: for Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Penyair Aceh, LK Ara, kembali menyuarakan kegelisahan terhadap kerusakan lingkungan melalui karya sastra. Di tengah polemik pertambangan yang mencuat di Aceh, ia mengingatkan bahwa eksploitasi alam tidak boleh dipandang semata sebagai urusan ekonomi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekologi dan kehidupan masyarakat.

Pesan itu disampaikan LK Ara saat membaca puisi dalam diskusi seniman Aceh bersama komunitas SKATE PARK STAGE Banda Aceh di Sophi Sunset Coffee, Geuceu, Banda Aceh, Rabu (17/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah seniman, musisi, aktor teater, pegiat budaya, dan masyarakat umum.

Menurut LK Ara, isu tambang bukan tema baru dalam proses kreatifnya. Sejak lama, ia menulis puisi yang lahir dari kegelisahan terhadap kerusakan lingkungan, baik akibat aktivitas pertambangan, penggundulan hutan, maupun perubahan bentang alam yang terjadi di berbagai wilayah.

“Ketika pohon ditebang, itu bukan hanya soal ekologi. Pohon adalah ayat Tuhan,” kata LK Ara.

Ia menilai, alam tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi. Bagi LK Ara, hubungan manusia dengan lingkungan memiliki dimensi spiritual, sosial, dan kemanusiaan. Karena itu, kerusakan alam pada akhirnya juga akan merusak kehidupan manusia sendiri.

LK Ara menjelaskan, berbagai perubahan bentang alam yang disaksikannya selama bertahun-tahun menjadi sumber inspirasi dalam menulis puisi. Sastra, kata dia, memiliki peran penting sebagai medium kritik sosial sekaligus pengingat agar manusia tidak kehilangan kepekaan terhadap alam.

Salah satu puisi yang lahir dari kegelisahan tersebut berjudul *Dzikir di Hadapan Musibah*. Selain itu, ia juga menyinggung puisi berjudul *Pantan Cuaca*, nama sebuah desa di Kabupaten Gayo Lues, yang ditulis sebagai bentuk protes terhadap persoalan lingkungan akibat eksploitasi alam.

Menurutnya, suara kritik melalui puisi perlu terus dihidupkan, terutama ketika isu kerusakan lingkungan mulai dianggap biasa. Ia menilai, karya sastra dapat menjadi jalan untuk menjaga kesadaran publik agar tidak abai terhadap dampak ekologis dari kebijakan pembangunan.

Melalui puisi-puisinya, LK Ara mengajak masyarakat dan para pengambil kebijakan untuk lebih bijak dalam mengelola sumber daya alam. Pembangunan, katanya, seharusnya tidak mengorbankan hutan, sungai, tanah, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada alam.

Ia berharap, polemik tambang dan kerusakan lingkungan di Aceh menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang hidup yang harus dijaga.

“Kalau alam rusak, manusia juga akan kehilangan tempat berpijak. Maka tugas kita bukan hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga merawatnya,” ujar LK Ara.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes