Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / May Day di Banda Aceh: Tuntutan Lama, Janji yang Belum Tuntas

May Day di Banda Aceh: Tuntutan Lama, Janji yang Belum Tuntas

Jum`at, 01 Mei 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn
Ilustrasi. May Day 2026 di Banda Aceh. [Foto: Desain ChatGPT oleh dialeksis.com]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kota Banda Aceh berlangsung tertib dan meriah. Ribuan mata tertuju ke kawasan depan Masjid Raya Baiturrahman, tempat Aliansi Buruh Aceh (ABA) menggelar aksi massa dan rangkaian kegiatan sejak pagi hingga siang, Jumat (1/5/2026).

Aksi yang dipimpin oleh koordinator lapangan Syukurullah itu diikuti sekitar 200 peserta. Sejak pukul 08.00 WIB, massa mulai berkumpul di halaman Masjid Raya Baiturrahman, lalu mengikuti rangkaian acara pembukaan, orasi, konvoi, hingga kegiatan bakti sosial di Taman Sari.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, Karoops Polda Aceh Brigjen Pol. Heri Heriyandi, Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol. Andi Kirana, Kadisnakertrans Aceh Akmil Husen, serta anggota DPRA Rijaluddin dan Tgk. Rasyidin. Hadir pula para pengurus ABA, perwakilan serikat pekerja, dan awak media.

Dalam aksi itu, ABA kembali menyuarakan beragam tuntutan yang selama ini menjadi perhatian kalangan buruh. Di antaranya pengesahan regulasi ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing, penolakan upah murah, penghentian ancaman PHK, reformasi perpajakan, perlindungan bagi pekerja rumah tangga, hingga desakan ratifikasi Konvensi ILO Nomor 190 tentang penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.

Mereka juga menyoroti pentingnya implementasi Qanun Ketenagakerjaan Aceh, termasuk terkait tunjangan meugang bagi pekerja, penetapan upah sektoral kelistrikan, serta pelaksanaan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) sebagai hak dasar masyarakat.

Dalam sambutan pembuka, panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan mendukung jalannya kegiatan. Mereka menegaskan, May Day bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan momentum perjuangan buruh untuk mendapatkan hak yang layak.

Korlap aksi, Syukurullah, kemudian menegaskan bahwa May Day adalah hari perjuangan, bukan hari libur. Ia juga mengingatkan peserta agar tertib selama konvoi, mematuhi aturan lalu lintas, dan menjaga keamanan bersama.

Usai pembukaan, massa bergerak konvoi dari depan Masjid Raya Baiturrahman menuju Simpang Lima, depan gedung DPRA, Jambo Tape, Simpang Surabaya, kawasan Peniti, Simpang Kodim, Pendopo Gubernur Aceh, lalu berakhir di Taman Sari. Di lokasi akhir, peserta kembali menggelar orasi yang menyoroti persoalan ketenagakerjaan di Aceh.

Ketua ABA Saiful Mar dalam orasinya menegaskan bahwa pemerintah perlu lebih serius menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan melalui kebijakan nyata, bukan sekadar janji. Sementara Sekretaris ABA, Habibi Inseun, menekankan pentingnya prinsip tiga layak bagi pekerja, yakni pekerjaan yang layak, upah yang layak, dan kehidupan yang layak.

Dari pihak pemerintah, Kadisnakermobduk Aceh Akmil Husen menyebut Pemprov Aceh terus mendorong terciptanya hubungan industrial yang harmonis serta mengajak pekerja untuk aktif melapor bila menemukan pelanggaran norma ketenagakerjaan. Ia juga menyinggung hadirnya Qanun Ketenagakerjaan Nomor 1 Tahun 2024 sebagai payung hukum perlindungan buruh di Aceh.

Sementara itu, Ketua Komisi V DPRA Rijaluddin mengakui perjuangan di sektor ketenagakerjaan masih menghadapi banyak tantangan. Ia menyebut dukungan buruh dibutuhkan agar isu tenaga kerja bisa mendapat perhatian lebih besar dalam kebijakan dan penganggaran Pemerintah Aceh.

Menjelang siang, kegiatan dilanjutkan dengan bakti sosial, berupa penyerahan santunan kematian kepada ahli waris, pembagian bantuan pangan kepada pekerja, serta donor darah. Sebanyak 2.500 kilogram beras atau 500 sak juga disalurkan kepada buruh sebagai bantuan pangan.

Aksi May Day ABA di Banda Aceh berlangsung aman dan tertib hingga memasuki waktu istirahat Jumat. Setelah itu, rangkaian kegiatan dijadwalkan berlanjut kembali pada pukul 14.00 WIB.

Peringatan May Day 2026 di Banda Aceh kali ini tidak hanya menjadi ajang penyampaian aspirasi, tetapi juga memperlihatkan upaya buruh Aceh untuk menyuarakan tuntutan secara damai, terorganisir, dan penuh harapan akan perubahan yang lebih baik bagi dunia kerja di Tanah Rencong. [arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI