Senin, 05 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / MISSION XIII 2026, Masa Depan Tambang Butuh SDM Kompeten dan Berwawasan Lingkungan

MISSION XIII 2026, Masa Depan Tambang Butuh SDM Kompeten dan Berwawasan Lingkungan

Minggu, 04 Oktober 2026 23:50 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan ruang diskusi nasional mengenai masa depan industri pertambangan dalam Seminar Tambang Nasional MISSION XIII 2026 di Aula Anjong Mata, Banda Aceh, Minggu (4/10/2026). Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan ruang diskusi nasional mengenai masa depan industri pertambangan dalam Seminar Tambang Nasional MISSION XIII 2026 di Aula Anjong Mata, Banda Aceh, Minggu (4/10/2026).

Seminar yang mengusung tema “Strengthening the Role of The Mining Industry in Supporting Sustainable Economic Growth in the Energy Transition Era” tersebut dibuka oleh Ir. Irwansyah, S.T., M.T., selaku Plh. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh.

Plh Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Ir. Irwansyah, S.T., M.T., menilai penguatan peran industri pertambangan harus berjalan seiring dengan tuntutan pembangunan berkelanjutan dan transisi energi.

Menurutnya, sektor pertambangan tetap memiliki posisi penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi karena sumber daya mineral menjadi salah satu kebutuhan utama bagi pembangunan infrastruktur dan perkembangan teknologi energi.

Namun, pengelolaan pertambangan tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Aspek lingkungan, keselamatan kerja, tata kelola, konservasi sumber daya serta manfaat bagi masyarakat sekitar juga harus menjadi perhatian.

Irwansyah menyampaikan, perkembangan industri pertambangan ke depan membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis sekaligus memahami prinsip pengelolaan pertambangan yang bertanggung jawab.

Karena itu, ia mengapresiasi penyelenggaraan Seminar Tambang Nasional MISSION XIII 2026 yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri, organisasi profesi dan mahasiswa.

Menurutnya, forum seperti ini penting bagi mahasiswa Teknik Pertambangan untuk memahami perkembangan industri secara lebih luas, termasuk tantangan yang akan dihadapi sektor pertambangan di tengah perubahan kebutuhan energi.

“Mahasiswa harus mempersiapkan diri karena ke depan tantangan industri pertambangan semakin kompleks. Tidak hanya dituntut menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami lingkungan, keselamatan, regulasi dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bertukar pengetahuan antara dunia pendidikan, pemerintah dan industri, sehingga lulusan pertambangan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus mampu berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

ESDM Aceh, kata Irwansyah, juga melihat pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam memastikan sumber daya mineral Aceh dikelola secara optimal, memberikan nilai tambah bagi daerah, serta tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Seminar ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, praktisi industri, organisasi profesi dan mahasiswa untuk membahas posisi strategis industri pertambangan di tengah perubahan kebutuhan energi dan teknologi.

Sejumlah narasumber turut dihadirkan, di antaranya Ari Hendrawanto, S.T., M.S.E. dari Kementerian ESDM, Ir. Rizal Kasli, S.T., IPU., ASEAN Eng., serta Ir. Resvani, M.B.A. dari PERHAPI.

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan perspektif dari pelaku industri melalui Ir. Wisnu Salman, Tengku Khadafi Munir dari PT Mifa Bersaudara dan Ali Imron dari PT Juya Aceh Mining. Pembahasan mencakup aspek regulasi, keselamatan pertambangan, industri, hingga tanggung jawab sosial perusahaan.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan Fakultas Teknik USK, Dr. Ir. Nasrullah RCL, S.T., M.T., mengatakan MISSION XIII menjadi kesempatan penting bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring dengan dunia industri.

Menurutnya, pertambangan masih memiliki posisi penting dalam pembangunan ekonomi karena mineral dibutuhkan untuk berbagai teknologi energi baru, infrastruktur dan industri masa depan.

Namun, kata dia, pengelolaan sektor tersebut harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan, konservasi sumber daya, tanggung jawab sosial, tata kelola yang baik serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Selain Seminar Tambang Nasional, kegiatan tersebut juga mencakup Mining Science Art Competition (MSAC) 2026 dan Syiah Kuala Mining Engineering Competition (SMEN) 2026.

MSAC menghadirkan enam cabang lomba, yakni esai, public speaking, cerdas cermat, fotografi, desain poster dan short movie. Sementara SMEN menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menguji sekaligus mengembangkan keterampilan teknis di bidang pertambangan.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI