DIALEKSIS.COM| Takengon- “Pelestarian situs bersejarah bukan hanya soal menjaga warisan, tetapi juga membuka peluang ekonomi serta meningkatkan edukasi masyarakat,” sebut Agus Muliara, salah seorang mahasiswa pasca sarjana, hukum tata negara, Universitas Bung Karno.
Menurut aktivitis ini, Aceh Tengah telah lama dikenal sebagai destinasi wisata yang menarik, terbukti dengan peningkatan jumlah pengunjung dalam beberapa tahun terakhir, sebutnya dalam keteranganya kepada Dialeksis.com, Jumat (04/04/2025)
Kata Agus, Kota dingin Takengon harus berani melangkah lebih maju dengan mengembangkan potensi wisata sejarah guna menambah daya tarik bagi wisatawan.
“Pelestarian situs bersejarah bukan hanya soal menjaga warisan, tetapi juga membuka peluang ekonomi serta meningkatkan edukasi masyarakat. Wisata sejarah kini semakin mendapat perhatian sebagai sektor potensial dalam pembangunan daerah,” jelasnya.
Selain menjadi saksi perjalanan bangsa, situs-situs bersejarah juga dapat menjadi magnet pariwisata yang memperkuat identitas budaya sekaligus mendongkrak perekonomian lokal, kata Agus.
Menurut Agus yang selama ini dikenal sebagai aktivitis di negeri penghasil kopi ini, di tengah arus modernisasi, banyak generasi muda mulai melupakan nilai-nilai sejarah yang membentuk jati diri bangsa.
“Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama pelaku pariwisata dan komunitas pecinta sejarah perlu berperan aktif dalam menghidupkan kembali destinasi sejarah melalui berbagai upaya, seperti kegiatan edukatif, digitalisasi informasi, hingga revitalisasi kawasan heritage (warisan),” sebutnya.
Khusus untuk wisata sejarah dan religi, diperlukan perhatian serta pengelolaan yang optimal dari pemerintah daerah agar potensi wisata tidak hanya sekadar memberikan panorama indah, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi wisatawan.
Pengunjung harus mendapatkan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati pemandangan, yaitu kisah dan makna yang bisa mereka bawa pulang.
Menurut Agus, Takengon memiliki banyak potensi wisata sejarah dan legenda yang kaya, berpadu dengan keindahan alam yang asri.
Beberapa di antaranya adalah Loyang Datu Isaq, Weh Ilang Jamat (Delung Sekinel), Batu Belah, Atu Berukir Umang Isaq, Batu Bekas Serule, Loyang Koro, dan Putri Pukes yang sudah tidak asing lagi, termasuk juga makam Reje Linge.
Namun, semua potensi ini membutuhkan perhatian khusus agar dapat berkembang lebih baik dan berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian daerah.
“Jika dikelola dengan baik melalui peran aktif pemerintah daerah dan desa, wisata sejarah di Aceh Tengah berpotensi menarik wisatawan mancanegara untuk melihat kekayaan alam dan budaya Gayo dengan berbagai legenda sejarahnya,” kata Agus.
"Ketika kita merawat dan mempromosikan situs sejarah, kita tidak hanya menyelamatkan bangunan tua, tetapi juga menghidupkan cerita dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya," ujar Agus Muliara.
Selain aspek edukasi, wisata sejarah juga terbukti memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Kehadiran wisatawan mendorong pertumbuhan sektor pendukung seperti kuliner, penginapan, hingga industri kreatif lokal.
Di beberapa daerah, wisata sejarah bahkan menjadi andalan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Untuk itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat dibutuhkan guna menjaga kelestarian situs sejarah sekaligus menjadikannya sebagai sumber inspirasi dan kemajuan.
Masa depan akan lebih kuat jika kita mengetahui dan bangga dengan masa lalu. Menurutnya, dengan menghidupkan wisata sejarah, suatu daerah tidak hanya merawat warisan leluhur.
Tetapi, juga membuka pintu bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan meneruskan kisah kebesaran bangsanya, jelas Agus Muliara.