Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Pemulihan Pascabencana, Mahasiswa UTU Pasang Sistem Peringatan Dini Banjir Berbasis IoT di Pidie

Pemulihan Pascabencana, Mahasiswa UTU Pasang Sistem Peringatan Dini Banjir Berbasis IoT di Pidie

Selasa, 17 Februari 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

50 mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) lintas fakultas yang tergabung dalam Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Berdampak resmi diberangkatkan menuju lokasi pengabdian di Gampong Gajah Ayee, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebanyak 50 mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) lintas fakultas yang tergabung dalam Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Berdampak resmi diberangkatkan menuju lokasi pengabdian di Gampong Gajah Ayee, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie.

Keberangkatan mereka merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai respons atas bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatera pada akhir November hingga Desember 2025 lalu.

Sebelumnya, pelepasan simbolis dilakukan oleh Rektor Universitas Teuku Umar, Prof. Ishak Hasan, pada Senin, 2 Februari 2026. Dalam amanatnya, ia menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi juga momentum pembelajaran dan pengabdian yang bermakna bagi mahasiswa.

“Gunakan kesempatan ini untuk belajar sekaligus memberi solusi. Saya berpesan kepada mahasiswa agar menjaga perilaku, berbaur dengan kearifan lokal, dan benar-benar membantu meringankan beban warga. Kepada dosen pendamping, pastikan bimbingan dilakukan secara intensif agar teknologi yang kita bawa benar-benar bermanfaat bagi pemulihan ekonomi dan sosial di daerah terdampak,” pesan Prof. Ishak Hasan.

Tim PKM Mahasiswa Berdampak ini diketuai oleh Delfian Masrura, M.T, dengan anggota dosen pendamping Fitry Hasdanita, M.T, dan Ar Razy, M.T. Program ini melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknik Mesin, Teknologi Informasi, Peternakan, Bisnis Digital, hingga Ilmu Administrasi Negara.

Kolaborasi lintas bidang ini menjadi kekuatan utama dalam merancang solusi komprehensif bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya dalam aspek infrastruktur, teknologi, ekonomi, dan tata kelola masyarakat.

Sebelum keberangkatan, mahasiswa mendapatkan pembekalan intensif dari Ketua Pengabdi sekaligus dosen pembimbing, Delfian Masrura. Ia menekankan pentingnya memastikan program yang dilaksanakan benar-benar memberi dampak nyata dan berkelanjutan.

“Pelaksanaan program harus berdampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Kita tidak hanya datang membawa teknologi, tetapi juga harus memastikan masyarakat dapat memahami, memanfaatkan, dan merawat sistem yang dibangun,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Selasa (17/2/2026).

Fokus utama pengabdian mahasiswa UTU adalah program pemberdayaan masyarakat tangguh bencana melalui pengembangan Early Warning System (EWS) berbasis Internet of Things (IoT).

Sistem ini dirancang untuk mendukung penataan drainase dan normalisasi sungai di Gampong Gajah Ayee, yang menjadi salah satu wilayah terdampak banjir akibat bencana hidrometeorologi beberapa bulan lalu.

Teknologi IoT memungkinkan pemantauan kondisi lingkungan secara real-time, termasuk potensi peningkatan debit air yang berisiko memicu banjir.

Dengan sistem ini, masyarakat diharapkan dapat memperoleh peringatan dini sehingga mampu mengambil langkah mitigasi lebih cepat.

Selain aspek teknologi, mahasiswa juga terlibat dalam kegiatan pendampingan masyarakat, edukasi mitigasi bencana, serta kontribusi dalam upaya pemulihan sosial dan ekonomi warga.

Program ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.

Kehadiran mahasiswa UTU disambut hangat oleh pemerintah dan masyarakat Gampong Gajah Ayee. Keuchik Gampong Gajah Ayee, Husaini, menyampaikan harapannya agar program ini dapat mempercepat proses pemulihan wilayah mereka.

“Kami sangat menyambut baik kehadiran adik-adik mahasiswa. Kami berharap program ini mampu mempercepat pemulihan infrastruktur sosial dan ekonomi di wilayah kami yang terdampak bencana, serta membantu masyarakat menjadi lebih siap menghadapi bencana di masa depan,” ujar Husaini.

Menurutnya, inovasi teknologi yang dibawa mahasiswa menjadi harapan baru bagi masyarakat dalam membangun sistem mitigasi yang lebih modern dan efektif.

"Kita harap program ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung agar pemulihan pascabencana ini segera tuntas," tuturnya. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI