DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Isu kesehatan mental di kalangan Generasi Z di Aceh dinilai perlu mendapat perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat.
Berbagai tekanan yang dihadapi anak muda, mulai dari tuntutan akademik, pengaruh media sosial, hingga kekhawatiran terhadap masa depan, menjadi tantangan yang semakin nyata di era digital saat ini.
Alumni Magister Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Universitas Negeri Yogyakarta, Ade Putri Juliati, mengatakan kesehatan mental tidak boleh lagi dipandang sebagai isu yang tabu untuk dibicarakan.
Menurutnya, masih banyak anak muda yang memilih memendam masalah psikologis karena takut dihakimi atau dianggap lemah.
"Menurut saya, isu kesehatan mental pada Generasi Z di Aceh perlu menjadi perhatian bersama. Saat ini banyak anak muda menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik, pengaruh media sosial, hingga kekhawatiran terhadap masa depan," kata Ade Putri Julianti kepada Dialeksis.com, Sabtu (25/7/2026).
Ia menambahkan, stigma yang masih melekat terhadap persoalan kesehatan mental membuat sebagian orang enggan mencari pertolongan ketika mengalami tekanan emosional.
"Masih ada anggapan bahwa membicarakan masalah psikologis adalah sesuatu yang tabu. Akibatnya, banyak yang memilih memendam perasaannya daripada mencari bantuan," ujarnya.
Ade menegaskan bahwa kesehatan mental memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Seseorang yang mengalami tekanan emosional bukan berarti memiliki kelemahan, melainkan membutuhkan dukungan dan ruang yang aman untuk pulih.
"Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketika seseorang mengalami tekanan atau kesulitan secara emosional, hal tersebut bukan berarti ia lemah. Justru, kita perlu menciptakan lingkungan yang lebih terbuka, saling mendukung, dan tidak mudah menghakimi agar generasi muda merasa aman untuk bercerita dan mendapatkan bantuan jika diperlukan," jelasnya.
Menurut Ade, peningkatan literasi mengenai kesehatan mental menjadi langkah awal yang penting untuk membantu generasi muda mengenali kondisi dirinya sendiri. Dengan pemahaman yang baik, seseorang akan lebih mudah mengetahui kapan harus mencari bantuan.
"Pertama, perbanyak literasi tentang kesehatan mental agar lebih memahami kondisi diri sendiri dan tahu kapan harus mencari bantuan," katanya.
Selain itu, ia mengingatkan Generasi Z agar tidak mudah membandingkan kehidupannya dengan apa yang ditampilkan di media sosial.
"Jangan mudah terpengaruh oleh informasi atau standar hidup yang ada di media sosial. Apa yang kita lihat di media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang, bukan keseluruhan kehidupannya," ujarnya.
Ade juga menilai sikap terbuka atau open-minded menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan yang begitu cepat.
"Belajar menerima perbedaan, terbuka terhadap masukan, dan tidak takut mencoba hal baru akan membantu kita lebih mudah beradaptasi dengan berbagai perubahan," katanya.
Di samping itu, ia mendorong anak muda untuk membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, maupun komunitas di sekitarnya. Menurutnya, dukungan sosial merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental.
"Memiliki keluarga, teman, atau komunitas yang saling mendukung dapat menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi tekanan," ucapnya.
Ade Putri Julianti juga mengingatkan bahwa mencari bantuan profesional bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti apabila masalah psikologis sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Yang tidak kalah penting, jangan ragu untuk bercerita kepada orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional jika merasa masalah yang dihadapi sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri," pungkasnya.