DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas yang diperingati setiap tanggal 20 Mei menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat kembali semangat persatuan, kemandirian, dan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
Rektor Universitas Islam Negeri atau UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.Ag, mengatakan bahwa peringatan Harkitnas tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata. Menurutnya, semangat kebangkitan nasional harus diterjemahkan dalam tindakan konkret, terutama dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Momentum Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi pengingat bahwa bangsa ini hanya akan maju apabila seluruh elemen masyarakat mampu bergerak bersama, menjaga persatuan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa,” ujar Prof. Mujiburrahman kepada Dialeksis, Rabu (20/5/2026).
Ia menilai, tema Harkitnas 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” sangat relevan dengan kondisi kekinian. Tema tersebut menegaskan pentingnya menjaga generasi muda sebagai aset utama bangsa di tengah tantangan global, perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, serta dinamika ekonomi dan geopolitik yang terus bergerak cepat. Tema ini juga sejalan dengan pedoman resmi peringatan Harkitnas ke-118 yang dirilis pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital.
Menurut Prof. Mujiburrahman, generasi muda hari ini tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki karakter kuat, integritas, kemampuan beradaptasi, literasi digital, serta kepedulian sosial. Kampus, kata dia, memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi yang tidak mudah terpecah, tidak mudah terprovokasi, dan mampu menjadi bagian dari solusi.
“Di tengah derasnya arus informasi, tantangan terbesar kita adalah bagaimana membangun generasi yang kritis, santun, produktif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan serta keislaman. Kebangkitan nasional hari ini harus dimaknai sebagai kebangkitan ilmu, kebangkitan moral, kebangkitan ekonomi, dan kebangkitan kepedulian sosial,” katanya.
Rektor UIN Ar-Raniry yang juga calon rektor ke depannya, juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan generasi muda dalam membangun bangsa. Menurutnya, persoalan bangsa seperti kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pendidikan, degradasi moral, penyalahgunaan teknologi, hingga melemahnya semangat kebersamaan tidak dapat diselesaikan secara parsial.
Ia mengatakan, perguruan tinggi harus terus hadir sebagai pusat ilmu pengetahuan, penguatan karakter, moderasi beragama, inovasi, dan pengabdian masyarakat. UIN Ar-Raniry, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan semangat kebangsaan.
“Hari Kebangkitan Nasional mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran, ilmu pengetahuan, dan keberanian untuk bergerak. Karena itu, kampus harus menjadi ruang tumbuhnya gagasan, etika, kepemimpinan, dan pengabdian,” ujar Prof. Mujiburrahman.
Ia mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk menjadikan Harkitnas sebagai momentum memperkuat kapasitas diri, memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, serta berkontribusi positif di lingkungan masing-masing. Menurutnya, mencintai bangsa tidak cukup hanya dengan slogan, tetapi harus diwujudkan melalui karya, prestasi, kedisiplinan, kejujuran, dan kepedulian.
“Bangsa ini membutuhkan anak-anak muda yang optimistis, kreatif, berakhlak, dan memiliki daya juang. Jangan menjadi generasi yang hanya menjadi penonton perubahan, tetapi jadilah pelaku perubahan yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan,” tuturnya.
Prof. Mujiburrahman berharap peringatan Harkitnas dapat memperkuat kesadaran kolektif masyarakat bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi hari ini. Karena itu, menjaga tunas bangsa berarti menjaga pendidikan, moralitas, persatuan, dan kedaulatan negara.
“Semangat kebangkitan nasional harus terus kita rawat. Dengan ilmu, akhlak, persatuan, dan kerja nyata, kita dapat membangun Indonesia yang lebih kuat, adil, maju, dan bermartabat,” pungkasnya. [ra]