Minggu, 08 November 2026
Beranda / Berita / Aceh / Sekolah Kader Dakwah Jadi Langkah Regenerasi Pendakwah Muda di Banda Aceh

Sekolah Kader Dakwah Jadi Langkah Regenerasi Pendakwah Muda di Banda Aceh

Minggu, 08 November 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Foto: Pemko Banda Aceh 

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh mengadakan Sekolah Kader Dakwah sebagai upaya regenerasi pembinaan masyarakat dan pemuda dalam rangka mewujudkan kaderisasi para kader dakwah atau dai sekaligus aktivis masjid yang kelak menjadi tonggak syiar Islam sekaligus berkontribusi dalam berbagai pembangunan di Kota Banda Aceh. Acara berlangsung di Mushalla Baburrahman Lorong E, Gampong Beurawe, Ahad (8/11/2026).

Acara tersebut dihadiri Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, Kadis Syariat Islam Banda Aceh, Alimsyah, Kabid Dakwah Marzuki, Kabid Pengembangan Syariah, Wirzaini Usman, Kabid Bina Ibadah dan Muamalah, Jamal serta jajarannya. Sementara peserta terdiri dari kader remaja masjid.

Kegiatan itu juga menghadirkan praktisi herbal syariah sekaligus pakar Thibbun Nabawi, Ustadz Febri Sugianto yang mengisi materi terkait fenomena kehidupan pemuda dan ruang lingkup kesehatannya dalam perspektif Islam

Dalam kesempatan itu, Kadis Syariat Islam Kota Banda Aceh, Alimsyah menyampaikan, sekolah kader dakwah merupakan hal yang sangat urgen dalam menunjang aktivitas syiar dakwah oleh lintas generasi. Oleh karenanya diperlukan kaderisasi yang berkelanjutab terhadap keberlangsungan dan kebutuhan agar syariat Islam itu berjalan sesuai yang diharapkan, sebagaimana harapan para pendahulu khususnya ulama.

“Kedepan program pengembangan remaja kader dakwah bisa dimaksimalkan,” kata Alimsyah.

Ia menjelaskan, di tengah menjamurnya pengaruh sekularisme dan liberisme, pergaulan bebas, hilangnya adat dan etika, para generasi hari ini harus mendapat perhatian khususnya dalam mengondisikan perkembangan teknologi dan media.

Yang paling miris ungkap Alimsyah, kehidupan para remaja hari ini telah berganti pada siang dan malam. Malam yang seharusnya dijadikan waktu istirahat tapi mereka malah menghidupkan malam hingga jelang pagi dengan kegiatan yang tak bermanfaat dan mendatangkan kemudharatan bagi tubuhnya. Begitupula sebaliknya pagi menjelang siang mereka tidur atau beristirahat.

“Itu sudah menyalahkan fitrahnya selaku manusia,” ujarn Alimsyah.

“Pemuda memiliki peran penting dalam membangun masyarakat islami yang menuntut lahirnya kader dakwah guna menjadi benteng atas fenomena tersebut,” tambah Alimsyah.

Sementara itu Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar mengatakan, salah satu bentuk prototype dalam membangun peradaban Islam dimulai dari kepribadian muslim yang baik, dari diri sendiri, keluarga, masyarakat gampong, kecamatan, hingga menjadi sebuah negara besar yang masyarakatnya sudah berprilaku secara islami.

Farid juga menekankan pentingnya para pemuda lewat sekolah kader dakwah tersebut agar menghidupakn kembali masjid maupun mushalla yang hari ini minim dengan aktivitas mereka di sana. Padahal kata Farid, masjid dulu sebagai inkubasi kader dakwah hingga menjadi aktivis. Dimulai dari belajar mengaji di Taman Kanak-kanak Al-Qur’an atau TKA kemudian berlanjut ke Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) lalu ke Ta’limul Qur’an lil Aulad (TQA) dan beranjak ke SMA mereka menjadi remaja masjid, lalu saat kuliah mereka bergelut menjadi aktivis dakwah kampus.

“Hari ini kita lihat aktivitas di masjid sudah redup dan terjadi lost generation,” kata Farid.

Menurut Farid Nyak Umar yang juga aktivis dakwah di Kota Banda Aceh ini, ia yakin bahwasanya kebangkitan islam di Ibu kota Aceh dimulai dari masjid yang digerakkan oleh oleh anak-anak muda. Karena itu, potensi-potensi mereka yang berada dalam masyarakat perlu dibina disatukan dan dididik agar mereka punya peran strategis dalam membangun masyarakat Islami di Kota Banda Aceh.

Ketua DPD PKS Banda Aceh ini juga terus mendorong Pemko Banda Aceh agar memaksimalkan sektor penganggaran untuk mendukung program-program yang digalakkan pemuda lewat kegiatan syiar dakwah supaya harapan membangun masyarakat Islami dapat saling terwujud satu sama lain.

Praktisi Kesehatan Herbal, Ustadz Febri Sugianto juga menyoroti sejumlah fenomena pemuda Aceh yang berdampak bagi kesehatan para pemuda hari ini. Salah satunya aktivitas muda-mudi yang gemar nongkrong hingga larut malam dan mengonsumsi makanan yang dapat mempengaruhi organ tubuh.

“Saya lihat anak-anak muda di Banda Aceh, mereka duduk lama-lama hingga larut malam sambil bermain gagdet dan jogat joget, belum lagi kita periksa apa yang mereka makan dan minum. Padahal di usia yang demikian itu, mereka harus menjaga waktu tidurnya agar tidak terserang liver dan ginjalnya,” kata Ustadz Febri.

Oleh karenanya, menurut Ustadz Febri kader dakwah itu harus menjaga kebersihan diri, harus sehat dengan berolahraga yang dibarengi komitmen misal mengatur pola istirahat, makan dan konsumsi yang seharusnya dibutuhkan tubuh, selanjutnya membaca Al-Qur’an untuk merespon tubuh. Terakhir kader dakwah harus banyak bersosialisasi untuk memperluas jaringan dan relasi.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI