Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Siswa Korban Banjir di Aceh Utara Belajar di Kelas Darurat Tanpa Seragam dan Buku

Siswa Korban Banjir di Aceh Utara Belajar di Kelas Darurat Tanpa Seragam dan Buku

Minggu, 01 Februari 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Bella Safira dan Asmaul Husna, Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Baktiya, Aceh Utara sedang perpose di halaman sekolahnya yang masih berantakan terdampak banjir akhir November 2025 lalu. Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah ruang belajar darurat yang jauh dari kata layak, semangat pelajar SMA Negeri 1 Baktiya, Aceh Utara, tetap menyala. 

Namun semangat saja tak cukup ketika seragam sekolah, buku tulis, komputer, bahkan Al-Qur’an untuk mengaji sudah tak lagi mereka miliki pascabanjir yang melanda wilayah itu.

Bella Safira, siswi kelas 2 SMA Negeri 1 Baktiya, menjadi salah satu yang merasakan langsung beratnya kembali bersekolah dalam kondisi serba terbatas.

“Seragam sekolah tidak ada, buku tulis tidak ada, padahal kami lagi persiapan buat OSN. Al-Qur’an juga tidak ada,” ujar Bella lirih saat ditemui di lokasi sekolah, belum lama ini oleh media dialeksis.com saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti meninjau sekolahnya pada Rabu, 28 Januari 2026.

Sejak banjir merendam rumah dan fasilitas sekolah, kegiatan belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke ruang darurat. Ruangan itu dipakai bersama oleh beberapa kelas sekaligus.

Dalam satu ruangan, bisa diisi satu angkatan yang terdiri dari tiga sampai empat kelas, masing-masing berisi sekitar 35 siswa. Kondisi itu membuat proses belajar jauh dari ideal.

“Kami masuk kelas darurat. Dalam satu ruangan bisa banyak kelas. Jadi belajarnya ya dengar saja dulu apa yang dijelaskan guru, berharap bisa ingat,” kata Bella.

Tanpa buku pegangan, siswa hanya mengandalkan ingatan dari penjelasan guru di kelas. Jika ada tugas, mereka berusaha mengerjakan semampunya dengan alat tulis seadanya.

Kondisi siswa pun terlihat berbeda dari biasanya. Tak ada lagi keseragaman pakaian putih abu-abu khas pelajar SMA.

“Bisa dilihat sendiri, pakaian kami warna-warni. Hijau, pink, macam-macam. Kami belum punya seragam lagi,” tutur Bella.

Buku pelajaran dan buku tulis hanyut atau rusak akibat banjir. Hingga kini, menurut Bella, bantuan perlengkapan sekolah belum juga mereka terima.

“Bantuan juga belum ada sampai sekarang. Seragam tidak ada, buku tulis tidak ada. Kami benar-benar tidak punya,” katanya.

Kesulitan tak berhenti di situ. Fasilitas penunjang pembelajaran seperti komputer juga hilang. Dampaknya terasa terutama bagi siswa kelas akhir yang membutuhkan perangkat untuk ujian maupun praktik.

“Komputer tidak ada. Kelas tiga tidak ada tempat ujian karena tidak ada komputer. Kelas dua juga tidak ada tempat praktik, termasuk untuk pelajaran biologi,” jelas Bella.

Asmaul Husna, Siswa Kelas 3 SMA 1 Baktiya mengatakan ketiadaan fasilitas membuat pembelajaran praktik terhenti. Siswa hanya bisa menerima teori tanpa pengalaman langsung.

Setiap pagi sebelum belajar, para siswa biasanya mengaji selama sekitar 15 menit. Namun kini, ratusan mushaf Al-Qur’an yang biasa digunakan ikut hilang.

“Al-Qur’an tidak ada. Biasanya kami ngaji dulu sebelum belajar. Sekarang tidak bisa lagi,” ucapnya pelan.

Saat ditanya apa yang paling dibutuhkan, Asmaul Husna menjawab tanpa ragu. “Seragam, buku paket, komputer, dan ruang kelas yang layak. Supaya kami bisa belajar seperti sekolah lain,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan harapan adanya beasiswa, karena kondisi ekonomi keluarga ikut terdampak banjir. Harga kebutuhan pokok naik, sementara penghasilan orang tua tak menentu.

“Orang tua kerja di bangunan, tapi kadang ada kerja, kadang tidak. Setelah banjir makin susah. Kami berharap ada beasiswa supaya bisa lanjut kuliah nanti,” kata Asmaul Husna.

Asmaul Husna sudah memikirkan masa depan. Ia ingin melanjutkan kuliah, sempat bercita-cita ke luar Aceh, namun kini harus realistis dengan kondisi keuangan.

“Rencananya mau kuliah. Kalau bisa di luar Aceh, tapi karena terkendala biaya mungkin di Aceh saja, seperti di Unimal atau UIN,” tuturnya.

Banjir tak hanya merusak rumah dan sekolah, tetapi juga mengubah rasa aman para siswa terhadap masa depan mereka. Dari yang semula sudah menyiapkan perlengkapan belajar, kini harus memulai dari nol.

Meski begitu, Bella, Asmaul Husna dan teman-temannya tetap datang ke sekolah setiap hari, duduk berdesakan di kelas darurat, mendengarkan guru dengan seksama.


"Kami hanya ingin belajar dan meraih cita-cita, seperti siswa lain di tempat yang lebih beruntung," tutilup Asmaul Husna.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI