Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Survey DAS Krueng Peusangan Ungkap Perubahan Morfologi Sungai Pascabanjir dan Longsor

Survey DAS Krueng Peusangan Ungkap Perubahan Morfologi Sungai Pascabanjir dan Longsor

Minggu, 04 Januari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Survey Perubahan Morfologi DAS Krueng Peusangan oleh Mapala ALASKA. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen dan sekitarnya tidak hanya meninggalkan jejak kerusakan sosial, tetapi juga mengubah wajah ekologis Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan secara signifikan.

Perubahan itu kini mulai terbaca melalui survey lapangan yang dilakukan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) ALASKA Universitas Almuslim, Bireuen.

Pada Kamis (1/1/2026), sejak pukul 14.00 hingga 17.30 WIB, Mapala ALASKA melaksanakan Survey Perubahan Morfologi DAS Krueng Peusangan sebagai respons langsung terhadap dampak bencana banjir dan longsor yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Survey dilakukan menyusuri alur sungai dari Jembatan Teupin Mane, Kecamatan Juli, hingga Jembatan Pante Lhong-Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda akademik mahasiswa, tetapi juga upaya membaca ulang kondisi ekologis sungai yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Survey ini dilaksanakan oleh Mapala ALASKA Universitas Almuslim dengan dukungan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Cabang Bireuen, serta melibatkan mahasiswa Universitas Almuslim sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan edukasi lingkungan.

Tim air dipimpin oleh Fikri Agustin, perwakilan Mapala ALASKA, bersama para pendayung Muhammad Alda, Saifa Arianda, Wiranda Saputra, Imam Apriliansyah, Afriza Fanni, dan Waisul Qarani. Dokumentasi udara dan visual dipercayakan kepada Iqram Maulana sebagai pilot drone dan dokumentator, sementara dukungan transportasi darat ditangani oleh Hafizh.

Berdasarkan analisis awal yang dilakukan sebelum turun ke lapangan, tim Mapala ALASKA memanfaatkan citra Google Earth serta platform Bhumi ATR/BPN Indonesia untuk memetakan dampak bencana. Hasilnya mengungkap fakta yang mencengangkan.

Sedikitnya 105 unit rumah warga teridentifikasi hilang atau tersapu aliran banjir di sepanjang jalur survey. Tak hanya itu, infrastruktur vital juga mengalami kerusakan berat.

"Tercatat lima jembatan rangka baja dan satu jembatan kayu gantung mengalami kerusakan serius, bahkan sebagian di antaranya terputus total, memutus akses antarwilayah dan aktivitas ekonomi warga," ujar Ketua Tim Survei, Fikri Agustin kepada media dialeksis.com, Minggu (4/1/2026).

Kerusakan tersebut menjadi bukti bahwa bencana yang terjadi bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan berkaitan erat dengan perubahan kondisi fisik sungai dan lingkungannya.

Hasil observasi langsung di lapangan memperlihatkan perubahan morfologi sungai yang signifikan. Pada sejumlah segmen, alur Krueng Peusangan terlihat melebar drastis akibat erosi tebing yang masif.

Dinding sungai yang sebelumnya stabil kini runtuh, meninggalkan endapan material dan memperbesar daya rusak aliran air saat debit meningkat.

Tim survey menemukan bahwa kondisi ini berkorelasi dengan berbagai aktivitas pemanfaatan ruang di wilayah hulu dan sepanjang bantaran sungai.

Indikasi aktivitas galian C, pembukaan perkebunan kelapa sawit, serta deforestasi dinilai telah melemahkan fungsi alami DAS sebagai pengendali aliran, penahan sedimen, sekaligus pelindung kawasan permukiman.

Hilangnya vegetasi penahan tanah membuat bantaran sungai kehilangan daya tahan terhadap arus deras, sehingga ketika banjir datang, erosi terjadi secara cepat dan destruktif

Untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses dari darat, survey dilakukan dengan metode pengarungan sungai menggunakan rubber boat (rafting). Metode ini memungkinkan tim mengamati kondisi sungai secara langsung dan menyeluruh, terutama di segmen-segmen kritis yang tersembunyi dari akses jalan.

Selama pengarungan, tim melakukan estimasi visual penampang sungai, pengamatan struktur tebing, serta dokumentasi lapangan melalui foto dan video.

Pengambilan citra udara menggunakan drone turut dilakukan untuk melengkapi data spasial dan memperkuat analisis perubahan bentang alam.

Seluruh anggota tim telah dibekali keterampilan dasar water rescue, dengan aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan kegiatan.

Fikri Agustin menegaskan bahwa survey ini merupakan langkah awal untuk memastikan penanganan pasca bencana tidak berhenti pada tahap darurat semata.

“Survey ini merupakan upaya awal untuk membaca ulang kondisi ekologis DAS Krueng Peusangan secara objektif, agar kebijakan pasca bencana tidak mengulang kesalahan yang sama,” ujar Fikri.

Menurutnya, data lapangan yang terkumpul cukup lengkap, mulai dari foto, video, rekaman drone, hingga analisis spasial awal berbasis citra satelit. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa persoalan banjir dan longsor tidak bisa dilepaskan dari tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang belum berkelanjutan.

Ke depan, hasil survey ini diharapkan menjadi bahan advokasi dan masukan bagi pemangku kebijakan, khususnya dalam penegakan aturan bantaran sungai, pengawasan aktivitas pemanfaatan ruang, serta evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan DAS Krueng Peusangan.

"Survey ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sungai bukan sekadar aliran air, melainkan sistem ekologis yang harus dijaga bersama demi keselamatan dan keberlanjutan hidup generasi mendatang," tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI