Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Terhalang Banjir dan Listrik Padam, Pelajar Aceh Tamiang Gagal Ikut Ujian Seleksi SMA Taruna Nusantara

Terhalang Banjir dan Listrik Padam, Pelajar Aceh Tamiang Gagal Ikut Ujian Seleksi SMA Taruna Nusantara

Minggu, 28 Desember 2025 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Assidiq Rafael Vramenia, siswa kelas IX SMP IT Yayasan Dar Faqih Qurani buah hati dari jurnalis Aceh, Muhammad Hendra Vramenia, yang juga dikenal sebagai owner media lokal Kabar Tamiang. Dokumen untuk dialeksis.com. 


DIALEKSIS.COM | Aceh Tamiang - Bencana banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang sebulan lalu tidak hanya merusak infrastruktur dan memutus akses listrik serta jaringan komunikasi, tetapi juga menggagalkan mimpi seorang pelajar berprestasi untuk mengikuti tahapan penting pendidikan nasional.

Pelajar tersebut adalah Assidiq Rafael Vramenia, siswa kelas IX SMP IT Yayasan Dar Faqih Qurani. Ia merupakan anak dari jurnalis Aceh, Muhammad Hendra Vramenia, yang juga dikenal sebagai owner media lokal Kabar Tamiang. 

Assidiq sebelumnya telah dinyatakan lulus seleksi administrasi Penerimaan Siswa Baru SMA Taruna Nusantara, sebuah sekolah unggulan tingkat nasional yang sangat diminati pelajar dari seluruh Indonesia.

Menurut Muhammad Hendra Vramenia, dari sekitar 24 ribu pendaftar, hanya 10 ribu siswa yang dinyatakan lolos tahap administrasi, dan Assidiq menjadi salah satunya. Tahapan berikutnya adalah ujian seleksi tertulis secara daring yang dijadwalkan berlangsung pada 29-30 November.

“Anak saya ini memang bercita-cita besar ingin masuk SMA Taruna Nusantara. Setelah dinyatakan lulus seleksi administrasi, dia sangat mempersiapkan diri untuk ujian gelombang tiga,” ujar Hendra kepada media dialeksis.com, Minggu, 28 Desember 2025.

Namun, musibah datang di luar perkiraan. Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang menyebabkan listrik padam total, jaringan internet terputus, dan sejumlah akses jalan terendam. Kondisi ini membuat Assidiq tidak dapat mengikuti ujian seleksi daring dari tempat tinggalnya.

Dalam situasi terdesak tersebut, Assidiq justru mengambil langkah berani. Pada Jumat, 28 November, bersama beberapa rekannya dari SMP, ia nekat berangkat menuju Aceh Tamiang, dengan harapan dapat menemukan lokasi yang memiliki akses listrik dan internet agar tetap bisa mengikuti ujian.

“Kalau anak-anak lain mungkin motifnya ingin melihat kondisi orang tua mereka, tapi anak saya motifnya jelas, Bang. Dia ingin ikut ujian seleksi SMA Taruna Nusantara,” tutur Hendra.

Assidiq memperkirakan perjalanan hanya akan memakan waktu satu hingga dua jam, karena ia mengira banjir yang terjadi merupakan banjir biasa. 

Namun kenyataan berkata lain. Perjalanan tersebut berubah menjadi perjuangan selama dua hari tiga malam, hingga akhirnya ia kembali pada hari Minggu sore.

“Alhamdulillah, anak saya dan teman-temannya selamat. Tapi kondisi sudah terlambat. Dia sampai di Aceh Tamiang tanggal 30 sore, sementara ujian sudah terlewat. Pada saat itu listrik dan jaringan juga masih mati total,” jelas Hendra.

Yang membuat kisah ini semakin menyentuh, Assidiq tetap membawa buku-buku pelajaran dan modul bimbingan belajar dari Master Langsa, tempat ia mengikuti bimbel persiapan seleksi. Bahkan di tengah perjalanan dan kondisi sulit, ia masih sempat belajar.

“Di tasnya itu ada buku semua. Dia memang serius. Bahkan di perjalanan pun dia belajar,” kata Hendra.

Hendra mengaku sempat menanyakan langsung alasan anaknya begitu nekat melakukan perjalanan berisiko tersebut. Jawaban Assidiq sederhana namun penuh tekad.

“Dia bilang, Abi dan Umi tidak bisa dihubungi karena jaringan mati. Jadi dia ambil keputusan sendiri, supaya tetap bisa ikut ujian online,” ungkapnya.

Seminggu setelah kejadian, saat berada di Pangkalan Susu, Hendra mengaku telah melaporkan kondisi tersebut secara resmi kepada pihak panitia Penerimaan Siswa SMA Taruna Nusantara, baik melalui email maupun call center. 

Ia juga menyampaikan bahwa kondisi serupa tidak hanya dialami oleh anaknya, tetapi juga banyak calon siswa lain di wilayah Aceh dan Sumatera Utara yang terdampak bencana.

“Memang ada pengumuman di Twitter resmi Taruna Nusantara bahwa akan ada ujian susulan bagi daerah terdampak bencana. Tapi sampai sekarang, sudah hampir sebulan, belum ada pengumuman resmi,” ujarnya.

Sebagai orang tua, Hendra berharap besar agar pihak panitia dan pimpinan SMA Taruna Nusantara dapat memberikan dispensasi dan kesempatan ujian susulan bagi para calon siswa korban bencana, termasuk anaknya.

“Ini bukan karena kelalaian, tapi murni musibah. Ini cita-cita anak saya. Saya mohon kepada pihak panitia dan petinggi SMA Taruna Nusantara, berilah kesempatan kepada anak-anak korban bencana untuk mengikuti ujian susulan, agar mimpi mereka tidak terhenti karena bencana alam,” harapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa seluruh dokumen pendukung, termasuk kartu peserta dan bukti seleksi, telah disiapkan dan siap diserahkan jika dibutuhkan.

“Kami hanya berharap keadilan dan kemanusiaan. Semoga ada jalan bagi anak-anak bencana untuk tetap meraih masa depan mereka,” tutup Hendra.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI