DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Masyarakat Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah resah terhadap isu keberadaan bendungan besar di hulu Sungai Jambo Aye membuat warga di empat desa kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) itu hidup dalam kecemasan, terutama setiap kali hujan turun dan malam tiba.
Informasi mengenai bendungan tersebut pertama kali diterima warga dari seorang penyadap getah pinus yang mengaku tersesat hingga ke kawasan hulu sungai.
Ia menyampaikan kepada warga bahwa dirinya melihat sebuah bendungan besar di lokasi yang sangat terpencil.
Sertalia, warga Kemukiman Wih Dusun Jamat, mengungkapkan bahwa kabar tersebut telah beredar hampir dua bulan dan belum ada kepastian dari pihak berwenang.
“Informasi itu kami terima dari salah satu penyadap getah pinus. Ia bilang melihat bendungan besar di hulu sungai. Katanya dia nyasar sampai ke sana. Kalau berjalan kaki dari kampung ke lokasi itu diperkirakan butuh waktu dua sampai tiga hari perjalanan,” ujar Sertalia kepada wartawan dialeksis.com, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, sejak informasi itu menyebar, warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai diliputi rasa waswas. Trauma bencana sebelumnya membuat kekhawatiran semakin membesar.
“Sudah hampir dua bulan kami resah. Setiap hujan turun, apalagi kalau malam, warga langsung panik. Kami takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” katanya.
Sertalia menuturkan, masyarakat Kemukiman Wih Dusun belum sepenuhnya pulih dari bencana yang terjadi pada 27 November 2025 lalu. Karena itu, kabar adanya bendungan misterius di hulu sungai dianggap sebagai ancaman serius yang tidak boleh diabaikan.
Empat desa di wilayah kemukiman tersebut berada di sepanjang DAS Jambu Aye. Jika benar terdapat bendungan besar di hulu tanpa pengawasan atau kajian teknis yang jelas, warga khawatir potensi jebol atau luapan air bisa memicu bencana susulan.
“Kami tidak ingin ada bencana susulan. Sudah cukup kejadian sebelumnya. Jangan sampai karena informasi ini tidak segera dicek, nanti malah terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” tegasnya.
Atas dasar kekhawatiran itu, warga berharap perhatian serius dari aparat penegak hukum, khususnya Kapolda Aceh. Sertalia menyebut, masyarakat meminta agar dilakukan peninjauan langsung ke lokasi untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
Ia bahkan secara khusus menyampaikan harapan agar Kapolda Aceh dapat memanfaatkan fasilitas helikopter untuk menjangkau lokasi yang sulit ditempuh melalui jalur darat.
“Kami memohon kepada Bapak Kapolda Aceh untuk mengecek langsung bendungan yang berada di hulu Sungai Jambu Aye. Kalau memang ada bendungan di sana, tolong pastikan apakah aman atau tidak. Dan jika benar ada, apa langkah yang harus dilakukan supaya masyarakat terhindar dari bahaya,” ujarnya penuh harap.
Menurut Sertalia, akses menuju lokasi yang diduga terdapat bendungan tersebut sangat berat. Perjalanan darat bisa memakan waktu dua hingga tiga hari dengan berjalan kaki melewati hutan dan pegunungan.
“Karena medannya sulit, kami berharap bisa dilakukan pengecekan dari udara. Setidaknya masyarakat mendapat kepastian, supaya tidak terus hidup dalam ketakutan,” tambahnya.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi terkait keberadaan bendungan yang dimaksud. Warga berharap pemerintah daerah maupun aparat kepolisian dapat segera melakukan verifikasi lapangan.
Keresahan yang berlangsung hampir dua bulan itu dinilai tidak sehat bagi kondisi psikologis masyarakat, terlebih saat musim hujan masih berlangsung.
“Sekali lagi kami berharap, jangan biarkan empat desa di Kemukiman Wih Dusun ini terus diliputi kecemasan. Kami hanya ingin kepastian dan rasa aman,” tutup Sertalia. [nh]