DIALEKSIS.COM | Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi berakhirnya anomali iklim La Nina di wilayah Indonesia pada pertengahan Maret 2025. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa kondisi ini mengindikasikan musim kemarau tahun ini akan berlangsung normal, berbeda dengan tahun sebelumnya yang diwarnai kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, indeks Dipole Mode Samudra Hindia (IOD) berada pada fase Netral dengan nilai -0,31 per Dasarian I Maret 2025. Fase ini diproyeksikan bertahan hingga semester kedua tahun 2025. Sementara itu, anomali Suhu Muka Laut (SST) di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik menunjukkan indeks +0,30, mengonfirmasi kondisi ENSO (El Niño-Southern Oscillation) Netral yang juga diprediksi stabil hingga akhir semester II 2025.
“La Nina telah berakhir. Artinya, musim kemarau akan normal. Semoga cuaca kondusif,” ujar Dwikorita dalam keterangan resmi, Jumat (14/3).
BMKG memprediksi musim kemarau 2025 akan dimulai secara bertahap mulai akhir Maret hingga April 2025. Wilayah pertama yang terdampak meliputi Lampung bagian timur, pesisir utara Jawa Barat, pesisir Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Mei 2025, kemarau diperkirakan meluas ke sebagian Sumatra, Jawa Tengah-Timur, Kalimantan Selatan, Bali, dan Papua bagian selatan.
Dwikorita menekankan, peralihan musim ini dipengaruhi oleh pergeseran angin monsun Asia ke angin monsun Australia.
“Awal musim kemarau berkaitan erat dengan peralihan angin monsun yang membawa massa udara kering dari Australia,” jelasnya.
BMKG mengimbau sektor pertanian untuk menyesuaikan pola tanam, terutama di daerah yang mengalami kemarau lebih awal. Rekomendasi mencakup penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan, optimalisasi pengelolaan air, dan antisipasi penurunan curah hujan. Sementara itu, wilayah dengan kemarau lebih basah disarankan memperluas lahan tanam guna meningkatkan produksi.
Di sektor kebencanaan, BMKG mengingatkan peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di daerah rawan dengan prediksi curah hujan di bawah normal.
“Kesiapsiagaan dini diperlukan untuk meminimalkan risiko karhutla,” tegas Dwikorita.
Selanjutnya Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung normal tanpa dominasi anomali iklim global seperti El Nino, La Nina, atau IOD. Meski demikian, beberapa wilayah tetap berpeluang mengalami curah hujan di atas normal selama kemarau.
“Kondisi tahun ini cenderung mirip dengan musim kemarau 2024, tidak sekering 2023 yang memicu karhutla luas. Namun, masyarakat perlu tetap waspada terhadap variabilitas cuaca lokal,” ujar Ardhasena.
Dengan berakhirnya La Nina, BMKG optimis pola iklim 2025 akan lebih stabil, meskipun tetap mengimbau semua pihak untuk memanfaatkan informasi cuaca terkini guna mitigasi risiko bencana dan optimalisasi sektor produktif.