DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. dr. Ichsan, M.Sc., Sp.KKLP., Subsp.FOMC., mencatatkan pencapaian penting di panggung akademik internasional. Ia terpilih mewakili Indonesia dalam Oxford International Primary Care Research Leadership Programme yang diselenggarakan Nuffield Department of Primary Care Health Sciences, University of Oxford, Inggris.
Keikutsertaan tersebut sekaligus menempatkan USK sebagai universitas pertama dari Indonesia yang mengirimkan perwakilan dalam program pengembangan kepemimpinan riset layanan kesehatan primer itu.
Dalam wawancara dengan Dialeksis, Dr. Ichsan mengatakan kesempatan mengikuti program tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Menurutnya, kepercayaan itu membawa tanggung jawab untuk memperkenalkan kapasitas akademik USK dan Indonesia di tengah komunitas peneliti kesehatan dunia.
“Kesempatan ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga amanah untuk membawa nama baik Universitas Syiah Kuala dan Indonesia pada tingkat internasional,” kata Dr. Ichsan kepada Dialeksis.
Program tersebut dirancang bagi peneliti pascadoktoral yang memiliki potensi menjadi pemimpin riset masa depan. Setiap tahun, universitas dari berbagai negara diundang untuk menominasikan seorang kandidat yang dinilai mempunyai kapasitas memimpin pengembangan riset layanan kesehatan primer.
Para peserta tidak hanya mempelajari konsep kepemimpinan, tetapi juga dilatih mengembangkan kemampuan operasional strategis, mengelola tim, membangun budaya penelitian, menentukan arah organisasi, serta memastikan hasil riset memberi pengaruh terhadap pelayanan kesehatan dan kehidupan masyarakat.
Dr. Ichsan menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dari sepuluh peserta internasional yang diterima dalam Cohort 18 atau angkatan 2026. Peserta lainnya berasal dari sejumlah institusi terkemuka, antara lain University of Oxford, University of Cambridge, Karolinska Institute, University of Glasgow, University of St Andrews, University of Exeter, University of Saskatchewan, University of Düsseldorf, dan Flinders University.
Menurut Dr. Ichsan, berada dalam satu forum bersama para akademisi dari berbagai negara memberikan ruang belajar yang sangat luas. Setiap peserta membawa latar belakang sistem kesehatan, budaya riset, metode kerja, dan tantangan layanan primer yang berbeda.
Perbedaan itu justru menjadi modal penting untuk membangun gagasan riset lintas negara.
“Selama mengikuti program ini, saya banyak belajar mengenai research leadership, membangun kolaborasi internasional, serta bagaimana menghasilkan riset yang benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Tiga Tahun Membangun Pemimpin Riset
Oxford International Primary Care Research Leadership Programme berlangsung selama tiga tahun melalui tiga pertemuan residensial di Oxford. Pertemuan pertama untuk angkatan 2026 berlangsung pada 28 Juni hingga 3 Juli 2026 di Harris Manchester College, Oxford.
Tahap pertama membahas Fundamentals of Research Leadership atau dasar-dasar kepemimpinan riset. Peserta diajak mengenali karakter dan gaya kepemimpinan masing-masing, memahami tujuan kepemimpinan, serta mempelajari penerapannya dalam lingkungan akademik.
Tahap kedua berfokus pada Organisational Research Leadership. Pada fase ini, peserta mempelajari cara menerapkan kepemimpinan dalam pengelolaan tim, institusi, dan organisasi riset yang lebih luas.
Tahap terakhir mengangkat tema Strategic Research Leadership. Peserta diarahkan untuk mengembangkan visi, menetapkan prioritas, membangun kemitraan, dan menyusun strategi jangka panjang agar kegiatan penelitian dapat memberi dampak lebih besar terhadap ilmu pengetahuan, kebijakan, serta pelayanan kesehatan.
Selama program, peserta mengikuti seminar bersama pakar, kelas khusus, pembelajaran praktis, diskusi reflektif kelompok, action learning sets, dan pendampingan individual atau one-to-one coaching. Program tersebut dipimpin Professor Kamal Mahtani, Guru Besar Evidence-Based Healthcare di University of Oxford.
Dr. Ichsan menilai kepemimpinan riset tidak cukup hanya diukur dari banyaknya publikasi atau proyek yang berhasil diperoleh. Seorang pemimpin riset juga harus mampu membangun tim yang sehat, menyiapkan generasi peneliti berikutnya, menerjemahkan temuan ilmiah menjadi kebijakan, serta memastikan penelitian menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks Aceh, kemampuan tersebut dinilai sangat relevan. Provinsi ini masih menghadapi tantangan akses layanan kesehatan, penguatan puskesmas, pemerataan tenaga medis, penyakit tidak menular, kesehatan ibu dan anak, serta kebutuhan pelayanan bagi masyarakat di wilayah kepulauan, pedalaman, dan kawasan terpencil.
Karena itu, riset layanan kesehatan primer harus bergerak lebih dekat dengan persoalan yang ditemukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya berharap pengalaman dan jejaring yang diperoleh dapat dibawa pulang untuk memperkuat kapasitas riset di USK, khususnya dalam bidang primary care dan kesehatan masyarakat,” tuturnya.
Ia juga berharap keterlibatan dalam program tersebut dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi dosen muda, mahasiswa, dan peneliti USK untuk terlibat dalam riset kolaboratif, publikasi internasional, pertukaran akademik, serta pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti.
“Harapannya, semakin banyak peluang kolaborasi internasional yang terbuka bagi dosen dan mahasiswa USK. Jejaring ini tidak boleh berhenti pada satu orang, tetapi harus berkembang menjadi kekuatan institusi,” kata Dr. Ichsan.
Dr. Ichsan tercatat sebagai dosen Fakultas Kedokteran USK dengan bidang keilmuan kedokteran dasar, mikrobiologi, dan kedokteran keluarga. Ia juga dikenal sebagai dokter keluarga, peneliti, serta akademisi yang aktif dalam pengembangan layanan kesehatan primer.
Rektor: Rekognisi Global USK Semakin Kuat
Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Dr. Ichsan dalam program bergengsi tersebut.
Menurutnya, pimpinan universitas mendukung pengembangan kapasitas tenaga pengajar pada tingkat internasional. Penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu fondasi penting agar USK dapat meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Lebih penting dari itu, dengan terpilihnya USK sebagai universitas pertama di Indonesia pada program di Universitas Oxford ini, rekognisi USK di tingkat global tentu akan semakin kuat dan luas,” ujar Prof. Mirza.
Ia menilai pengalaman internasional yang diperoleh seorang dosen harus dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan institusional. Pengalaman tersebut diharapkan memperkuat tata kelola riset, meningkatkan mutu pembimbingan mahasiswa, dan melahirkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Dr. Heru Fahlevi, S.E., M.Sc., Ak., CA., menambahkan, keberhasilan Dr. Ichsan merupakan bagian dari strategi internasionalisasi USK.
USK, jelasnya, terus memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi dunia, termasuk universitas yang berada dalam kelompok 100 terbaik. Kerja sama itu diarahkan untuk meningkatkan kualitas dosen dan lulusan agar mampu memberikan dampak nyata setelah kembali mengabdi kepada masyarakat.
“Capaian ini merupakan kebanggaan bagi USK dan perguruan tinggi di Indonesia. Keikutsertaan dalam program Oxford sangat sejalan dengan upaya USK menjalankan Program World Class University,” kata Prof. Heru.
Memperkuat Langkah Menuju Universitas Kelas Dunia
Partisipasi dalam program Oxford menjadi salah satu bagian dari langkah USK meningkatkan reputasi dan kualitasnya di tingkat internasional.
Berdasarkan Times Higher Education World University Rankings 2026, USK berada pada kelompok peringkat 1501+ dunia. Dalam pemeringkatan berdasarkan bidang ilmu, USK juga masuk kelompok 801 - 1000 dunia untuk bidang medis dan kesehatan.
Sementara itu, dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026, USK berada pada kelompok peringkat 301 - 400 dunia. Posisi tersebut meningkat dari kelompok 601 - 800 pada 2025 dan menempatkan USK sebagai perguruan tinggi dengan peringkat tertinggi di Pulau Sumatera dalam pemeringkatan tersebut.
Pemeringkatan dampak tersebut mengukur kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals. Aspek penilaiannya mencakup pendidikan, penelitian, tata kelola, pengabdian kepada masyarakat, dan kemitraan untuk pembangunan.
Bagi USK, pencapaian peringkat dan keterlibatan dosen dalam forum akademik dunia harus berjalan seiring dengan manfaat yang dirasakan masyarakat. Internasionalisasi bukan hanya mengenai kehadiran dalam pertemuan global, tetapi juga kemampuan membawa pengetahuan, teknologi, jejaring, dan praktik terbaik untuk menyelesaikan persoalan di daerah.
Dr. Ichsan menegaskan bahwa Aceh memiliki banyak persoalan kesehatan yang dapat menjadi dasar pengembangan riset berkualitas dunia. Namun, penelitian tersebut harus dibangun melalui kerja sama multidisiplin dan melibatkan pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga medis, komunitas, serta masyarakat sebagai pihak yang menerima manfaat.
Menurutnya, universitas memiliki tanggung jawab menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan lapangan. Hasil penelitian tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi perlu diterjemahkan menjadi inovasi pelayanan, rekomendasi kebijakan, dan model intervensi yang dapat diterapkan.
Partisipasi Dr. Ichsan dalam program kepemimpinan riset Oxford kini membuka jalan baru bagi USK untuk membangun hubungan akademik yang lebih luas. Jejaring tersebut diharapkan berkembang menjadi riset bersama, publikasi internasional, pertukaran peneliti, peningkatan kapasitas dosen, serta pelibatan mahasiswa dalam proyek-proyek kesehatan global.
Dari Banda Aceh menuju Oxford, keikutsertaan Dr. Ichsan membawa pesan bahwa universitas di daerah memiliki peluang yang sama untuk tampil dalam percakapan ilmu pengetahuan dunia.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman tersebut kembali ke kampus, tumbuh menjadi budaya riset, serta melahirkan solusi kesehatan yang nyata bagi Aceh, Indonesia, dan masyarakat global.