DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Agus Andria, mengungkapkan jumlah penduduk Aceh berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 tercatat sebanyak 5,631 juta jiwa.
Dalam lima tahun terakhir, laju pertumbuhan penduduk di provinsi tersebut mengalami perlambatan menjadi 1,36 persen per tahun.
“Populasi saat ini didominasi oleh Gen Z sebesar 27,01 persen dan Milenial 24,30 persen yang mencakup lebih dari separuh penduduk,” kata Agus kepada media dialeksis.com, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia merinci, kelompok Post-Gen Z menyumbang 22,13 persen penduduk, diikuti Gen X sebesar 17,52 persen. Sementara itu, kelompok lansia yang terdiri dari Baby Boomer dan Pre-Boomer mencapai 9,04 persen.
Dari sisi struktur usia, Agus menjelaskan bahwa rasio ketergantungan penduduk Aceh terus menurun hingga mencapai angka 47,75 pada SUPAS 2025. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 48 penduduk usia nonproduktif.
“Terjadi peningkatan proporsi penduduk usia produktif 15-64 tahun yang kini mendominasi sebesar 67,68 persen,” ujarnya.
Sebaliknya, proporsi penduduk usia muda (0-14 tahun) mengalami penyusutan menjadi 26,30 persen.
Adapun penduduk lansia (65 tahun ke atas) meningkat menjadi 6,02 persen. Secara keseluruhan, persentase lansia di Aceh naik dari 8,08 persen pada SP2020 menjadi 9,56 persen pada SUPAS 2025.
Meski demikian, Agus menegaskan bahwa Aceh masih belum memasuki fase penuaan penduduk (ageing population), karena proporsi lansia masih berada di bawah ambang batas 10 persen.
Selain itu, indikator kelahiran juga menunjukkan tren penurunan. SUPAS 2025 mencatat angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate/CBR) sebesar 18,56 kelahiran hidup per 1.000 penduduk, turun 1,08 poin dibandingkan hasil Long Form SP2020.
Di sisi lain, indikator kematian usia dini menunjukkan perbaikan signifikan. Angka Kematian Bayi (IMR) turun menjadi 16,27, Angka Kematian Anak (CMR) menjadi 2,68, dan Angka Kematian Balita (U5MR) menjadi 18,94 per 1.000 kelahiran hidup.
“Penurunan signifikan pada kematian bayi menjadi kontributor utama yang mendorong turunnya tingkat kematian balita secara keseluruhan,” jelasnya.
Dalam aspek mobilitas penduduk, Agus menyebut Kota Banda Aceh sebagai daerah dengan mobilitas tertinggi. Kota ini mencatat migrasi masuk seumur hidup sebesar 37,92 persen, sekaligus memiliki angka migrasi keluar yang tinggi.
“Dengan mobilitas yang sangat dinamis tersebut, Banda Aceh mencatatkan angka migrasi neto yang tetap positif, tapi sangat tipis, yakni sebesar 0,03 persen,” ucapnya.
Sementara itu, Kota Subulussalam mencatat angka migrasi neto risen tertinggi sebesar 3,54 persen, yang berarti adanya penambahan tiga orang per seratus penduduk akibat migrasi masuk pada periode 2020“2025.
Sebaliknya, Kabupaten Aceh Singkil menjadi wilayah dengan migrasi neto negatif tertinggi, yakni -2,03 persen, yang menunjukkan adanya pengurangan penduduk akibat migrasi keluar dalam periode yang sama.