Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Data / JSI Rilis Kajian Penilaian Publik Terhadap Tiga Besar Calon Rektor USK

JSI Rilis Kajian Penilaian Publik Terhadap Tiga Besar Calon Rektor USK

Jum`at, 16 Januari 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Survei JSI Ungkap Persepsi Publik terhadap Tiga Besar Calon Rektor USK. Foto: kolase Dialeksis 


DIALEKSIS.COM | Data - Hasil kajian pemantauan pemberitaan dan percakapan publik yang dilakukan Jaringan Survei Inisiatif (JSI) menunjukkan perbedaan citra yang signifikan di antara tiga calon Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026 - 2031: Prof. Dr. Ir. Agussabti menempati posisi paling positif, Prof. Dr. Ir. Marwan memiliki sentimen yang terpolarisasi, sedangkan Prof. Dr. Mirza Tabrani cenderung mendapat liputan netral dengan catatan kontroversi di luar kampus. Temuan ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif JSI sebagai narasumber kajian. 

Kajian JSI memantau pemberitaan portal berita lokal/nasional dan percakapan di media sosial (Facebook, Twitter/X, Instagram, YouTube) selama periode 10 September 2025 - 12 Januari 2026, yakni mulai tahap penjaringan hingga penetapan tiga calon teratas. Pendekatan analisis menggabungkan aspek kuantitatif (volume penyebutan dan analisis sentimen otomatis) serta kualitatif (pembacaan narasi kunci dan isu yang mengemuka). Hasil kuantitatif dikombinasikan dengan temuan kualitatif untuk menjelaskan mengapa setiap kandidat memperoleh citra tertentu di mata publik. 

Temuan utama kajian menempatkan Prof. Agussabti sebagai figur dengan proporsi sentimen positif terbesar. Dari total penyebutan tentang Agussabti, sekitar 60% bernada positif efeknya diperkuat oleh momen publik seperti khutbah Jumat yang mendapat perhatian luas dan pemaparan visi-misi yang dinilai terstruktur dan berbasis data. Citra religius, kedekatan dengan mahasiswa, serta rekam jejak manajerial di lingkungan akademik membuat ia tampil sebagai “calon ideal” menurut banyak pengamat dan pengguna media sosial. 

Di sisi lain, Prof. Marwan yang menjabat rektor petahana mencatat jumlah penyebutan paling banyak, namun dengan sentimen yang lebih bercampur. Analisis JSI memperlihatkan proporsi positif dan negatif yang hampir seimbang (sekitar 40% positif vs 30% negatif pada materi yang dipantau). Pendukung menyorot capaian seperti kenaikan peringkat nasional USK, sementara pengkritik mengangkat isu-isu masa lalu yang masih bergaung di publik, termasuk penggeledahan kantor rektor oleh KPK pada 2022 yang meski bukan tuduhan langsung terhadap Marwan, turut mempengaruhi persepsi kepercayaan publik, serta masalah administrasi seperti keterlambatan penerbitan ijazah yang sempat mencuat. 

Prof. Mirza Tabrani tercatat memiliki volume penyebutan paling rendah dibanding dua kandidat lainnya dan didominasi sentimen netral (sekitar 40% netral). Ia dipandang membawa pendekatan manajerial dan jejaring eksternal (termasuk pengalaman di dunia perbankan) yang potensial memperkuat kemandirian finansial dan relevansi lulusan. Namun citranya turut dibayangi catatan terkait kiprah di Bank Aceh, termasuk sorotan soal proses seleksi direksi yang memicu kritik terhadap Dewan Komisaris pada 2022 isu yang masih mempengaruhi persepsi sebagian publik. 

Analisis JSI juga memetakan dinamika waktu: perhatian publik meningkat sejak Oktober 2025 (momentum khusus untuk Agussabti) dan mencapai puncak pada pertengahan Januari 2026 seiring penetapan tiga calon teratas oleh Majelis Wali Amanat (12 Januari 2026). JSI menekankan bahwa meski citra publik penting, keputusan akhir akan berada di tangan pemilik suara (MWA dan Menteri Pendidikan Tinggi) dalam pemungutan suara final yang dijadwalkan 2 Februari 2026. 

Direktur Eksekutif JSI Ratnalia Indriasari, menjelaskan bahwa peta persepsi media dan media sosial ini dapat menjadi masukan strategis bagi para kandidat dan pemilih akhir. Menurutnya, kandidat yang ingin meningkatkan dukungan publik perlu tidak hanya menyampaikan visi besar, tetapi juga konkretkan peta jalan implementasi dan menangani isu-isu tata kelola yang menjadi perhatian publik. 

“JSI merekomendasikan agar MWA mempertimbangkan kesinambungan program sekaligus kapasitas pemimpin baru untuk menjawab tantangan lokal dan global yang dihadapi USK,” tegasnya.

Hasil kajian Jaringan Survei Inisiatif (JSI) menunjukkan bahwa citra publik berpotensi memengaruhi legitimasi kepemimpinan kampus sekaligus membentuk ekspektasi masyarakat Aceh terhadap rektor terpilih. Prof. Agussabti unggul dalam ranah opini publik melalui kombinasi rekam jejak, narasi religius-kultural, serta pemaparan visi yang kuat. 

Prof. Marwan memiliki modal pengalaman dan capaian yang signifikan, namun masih perlu merespons berbagai kritik terkait aspek manajerial. Sementara itu, Prof. Mirza menawarkan kekuatan jejaring dan perspektif manajerial, yang masih perlu diperkuat dengan pembuktian pengalaman serta kejelasan detail implementasi program. Siapa pun yang terpilih pada 2 Februari 2026 diharapkan mampu menjawab ekspektasi tersebut demi kemajuan Universitas Syiah Kuala (USK) dan peningkatan kualitas pelayanan bagi masyarakat Aceh.

Dengan demikian, kajian JSI menegaskan bahwa dinamika citra publik ketiga calon Rektor Universitas Syiah Kuala periode 2026 - 2031 terbentuk dari kombinasi rekam jejak personal, narasi media, serta isu-isu yang berkembang di ruang publik. Perbedaan persepsi ini menjadi gambaran penting bagi para pemangku kepentingan dalam membaca arah dukungan serta ekspektasi masyarakat akademik dan publik secara luas. 

JSI berharap hasil kajian ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang objektif dalam proses pengambilan keputusan, sekaligus mendorong terpilihnya pemimpin yang mampu memperkuat tata kelola, reputasi, dan kontribusi USK bagi pembangunan Aceh dan Indonesia.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI