Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Liputan Khusus / Diaspora / Akademisi Aceh Bawa Model Perdamaian Lokal ke Forum Global di Manila

Akademisi Aceh Bawa Model Perdamaian Lokal ke Forum Global di Manila

Kamis, 26 Maret 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Direktur Eksekutif ICAIOS, Reza Idria, bersama psikolog Iyulen Pebry Zuanny dan Vera Nova dari UIN Ar-Raniry memaparkan pengalaman kolaboratif dalam menangani dampak konflik di Aceh dalam forum internasional psikologi perdamaian, The International Network for Peace Psychology (INPP) 2026, yang berlangsung pada 23-27 Maret 2026 di Ateneo de Manila University. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Manila - Akademisi asal Aceh tampil dalam forum internasional psikologi perdamaian, The International Network for Peace Psychology (INPP) 2026, yang berlangsung pada 23-27 Maret 2026 di Ateneo de Manila University. Keterlibatan mereka difasilitasi oleh International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) bersama The Sasakawa Peace Foundation.

Direktur Eksekutif ICAIOS, Reza Idria, bersama psikolog Iyulen Pebry Zuanny dan Vera Nova dari UIN Ar-Raniry, memaparkan pengalaman kolaboratif dalam menangani dampak konflik di Aceh. Mereka menekankan pentingnya pendekatan psikologis yang disesuaikan dengan konteks lokal -- mulai dari nilai budaya, spiritualitas, hingga memori kolektif masyarakat.

“Kami tidak sekadar mengadopsi model trauma dari luar,” kata Reza dalam presentasinya. “Pendekatan yang kami kembangkan mengintegrasikan keahlian psikologi dengan pengetahuan lokal untuk memperkuat perdamaian di komunitas yang pernah mengalami konflik.”

Paparan tersebut merujuk pada studi kasus selama dua tahun, 2024-2025, yang melibatkan penyintas konflik, mantan kombatan, dan masyarakat sipil. Model yang ditawarkan bersifat hibrid, menggabungkan pendekatan ilmiah dengan kearifan lokal. Pendekatan ini, menurut tim ICAIOS, dapat menjadi rujukan dalam praktik psikologi perdamaian yang lebih kontekstual.

Forum INPP sendiri merupakan kelanjutan dari inisiatif yang dirintis sejak 1980-an melalui Committee on the Psychological Study of Peace (CPSP). Sejak 1989, simposium dua tahunan ini menjadi ruang pertukaran gagasan bagi akademisi dan praktisi dari berbagai negara dalam isu perdamaian dan resolusi konflik.

INPP 2026 di Manila diikuti peserta dari sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Australia, Jerman, Jamaika, Serbia, Inggris, Indonesia, Italia, Ethiopia, dan Spanyol. 

Keterlibatan akademisi Aceh dalam forum ini memperlihatkan upaya membawa pengalaman lokal ke panggung global -- sekaligus menegaskan bahwa pendekatan berbasis konteks menjadi salah satu kunci dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI