Kamis, 04 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Intelijen AS Bongkar Ancaman Iran di Selat Hormuz

Intelijen AS Bongkar Ancaman Iran di Selat Hormuz

Rabu, 03 Juni 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Rudal balistik ganas jarak jauh Iran, Khaibar. Foto: Reuters/Wana News Agency


DIALEKSIS.COM | Washington - Penilaian terbaru intelijen Amerika Serikat menyebut Iran masih menyimpan kemampuan rudal dalam jumlah besar, termasuk di kawasan strategis Selat Hormuz. Temuan ini menjadi sinyal serius bagi Washington karena jalur laut tersebut merupakan salah satu urat nadi utama perdagangan energi dunia.

Berdasarkan laporan The New York Times yang mengutip penilaian rahasia intelijen AS, Teheran disebut telah memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 lokasi rudal di sepanjang Selat Hormuz. Fasilitas-fasilitas itu dinilai kembali dapat digunakan, baik untuk menyimpan, memindahkan, maupun dalam beberapa kasus meluncurkan rudal dari lokasi yang tersedia.

Temuan tersebut membuat sejumlah pejabat AS khawatir. Pasalnya, Iran masih dinilai memiliki kemampuan untuk mengancam kapal perang Amerika Serikat maupun tanker minyak yang melintas di kawasan perairan sempit tersebut.

Dalam laporan intelijen itu, Iran disebut masih mempertahankan sekitar 70 persen peluncur rudal bergerak atau mobile launcher yang tersebar di seluruh negeri. Selain itu, Teheran juga dinilai masih menyimpan sekitar 70 persen stok rudal sebelum perang, termasuk rudal balistik yang dapat menjangkau negara-negara di kawasan serta sejumlah rudal jelajah untuk sasaran jarak pendek di darat maupun laut.

Badan intelijen militer AS juga menyimpulkan Iran telah kembali mengakses sekitar 90 persen fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal bawah tanahnya. Kesimpulan itu disebut diperoleh dari berbagai sumber pengumpulan data, termasuk citra satelit.

Kondisi ini bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang sebelumnya menyebut kekuatan militer Iran telah “dihancurkan” dan tidak lagi menjadi ancaman besar.

Gedung Putih menolak kesimpulan tersebut. Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales kembali menegaskan posisi Trump bahwa militer Iran telah mengalami kehancuran besar. Ia bahkan menyebut pihak yang menilai Iran berhasil membangun kembali kekuatan militernya sebagai pihak yang “delusional” atau sekadar menggemakan propaganda Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Namun, penilaian intelijen terbaru itu justru menunjukkan bahwa dampak serangan militer AS terhadap Iran kemungkinan dibesar-besarkan. Laporan serupa sebelumnya juga pernah dimuat The Washington Post, yang menyebut Iran masih mempertahankan sebagian besar peluncur bergerak dan stok rudalnya.

Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam ketegangan AS-Iran. Badan Informasi Energi AS atau EIA mencatat, arus minyak melalui Selat Hormuz pada 2024 dan kuartal pertama 2025 mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak laut global dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk petroleum dunia. Jalur ini juga dilalui sekitar seperlima perdagangan LNG global pada 2024.

Dengan kapasitas rudal Iran yang dinilai masih besar, posisi AS di kawasan Teluk menjadi semakin rumit. Jika gencatan senjata AS-Iran yang baru berusia sekitar satu bulan runtuh, Washington berpotensi menghadapi dilema besar: melanjutkan tekanan militer dengan stok amunisi yang sudah terkuras, atau membuka ruang diplomasi di tengah ancaman rudal Iran yang belum benar-benar lumpuh.

Bagi pasar energi global, ancaman di Selat Hormuz bukan isu kecil. Setiap eskalasi di kawasan itu dapat langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak, biaya pengiriman, serta stabilitas ekonomi negara-negara yang bergantung pada energi dari Teluk.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI