Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Iran Tegaskan Negosiasi dengan AS Bukan Tanda Menyerah

Iran Tegaskan Negosiasi dengan AS Bukan Tanda Menyerah

Senin, 11 Mei 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Foto: nbcnews.com


DIALEKSIS.COM | Teheran - Pemerintah Iran menegaskan bahwa langkah membuka ruang dialog dengan Amerika Serikat bukanlah bentuk menyerah, melainkan strategi untuk mempertahankan hak dan kepentingan nasional di tengah konflik yang terus membara.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya tidak akan pernah tunduk terhadap tekanan Washington, terlebih setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada 28 Februari lalu yang memicu eskalasi perang berkepanjangan.

“Jika ada pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu tidak berarti menyerah atau mundur, melainkan bertujuan untuk mengamankan hak-hak bangsa Iran dan secara tegas membela kepentingan nasional,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita pemerintah Islamic Republic News Agency, Minggu (10/5).

Ia kembali menegaskan sikap keras Teheran. “Iran tidak akan pernah tunduk di hadapan musuh,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat gugus tugas rekonstruksi dampak perang yang berlangsung di Teheran, melibatkan jajaran elite pemerintahan Iran. Forum itu sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah pemulihan di tengah tekanan geopolitik yang belum mereda.

Di sisi lain, jalur diplomasi masih terus berjalan. Iran dan Amerika Serikat diketahui tengah melakukan perundingan intensif melalui Pakistan sebagai mediator, dalam upaya mencari jalan keluar dari konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah.

Namun, dinamika perundingan tidak berjalan mulus. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku tidak puas dengan respons Iran terhadap proposal damai yang diajukan Washington.

“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya ” sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Trump dalam pernyataannya di platform Truth Social, seperti dilaporkan AFP.

Meski tidak merinci isi tanggapan tersebut, sejumlah laporan menyebut Iran mengusulkan pendekatan bertahap untuk meredakan konflik. Media pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting, melaporkan bahwa fokus utama proposal itu adalah penghentian perang di berbagai front, khususnya di Lebanon.

Sementara laporan The Wall Street Journal menyebut Iran membuka kemungkinan untuk mengencerkan sebagian uranium yang diperkaya tinggi, serta memindahkan sisanya ke negara ketiga sebagai bagian dari kompromi.

Namun, Teheran juga mengajukan syarat tegas. Dalam tanggapan yang disampaikan melalui Pakistan, Iran meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan jika negosiasi gagal atau jika Amerika Serikat kembali menarik diri dari kesepakatan.

Situasi ini menggambarkan tarik-ulur kepentingan yang masih tajam antara kedua negara. Di satu sisi, diplomasi terus diupayakan. Namun di sisi lain, ketegangan dan ketidakpercayaan masih menjadi bayang-bayang yang sulit diurai dalam konflik yang kian kompleks di kawasan Timur Tengah.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI