DIALEKSIS.COM | Ottawa - Hubungan Kanada dan Amerika Serikat memasuki fase yang sulit dibayangkan beberapa tahun lalu. Dua negara yang selama puluhan tahun menjadi sekutu dekat kini bahkan mulai memperhitungkan skenario terburuk: kemungkinan aksi militer Amerika Serikat terhadap Kanada.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengakui pemerintahannya telah mengkaji kemungkinan tersebut. Namun, Carney menegaskan invasi Amerika Serikat bukanlah skenario utama dan peluang terjadinya sangat kecil.
Dalam wawancara dengan The New York Times yang diberitakan sejumlah media internasional, Carney menyebut kemungkinan aksi militer AS sebagai “extreme tail risk”, yakni risiko ekstrem dengan probabilitas sangat rendah.
“Saya pikir kami memiliki tanggung jawab dalam posisi seperti ini untuk melihat risiko yang paling ekstrem,” kata Carney. Menurut dia, langkah tersebut merupakan bagian dari manajemen risiko negara.
Pengakuan itu menjadi perhatian karena untuk pertama kalinya pemimpin Kanada secara terbuka membicarakan kajian terhadap kemungkinan serangan dari negara yang selama ini merupakan sekutu pertahanan terdekatnya.
BBC dalam laporan 4 Oktober 2026 menyebut pemerintahan Kanada dan militernya telah menjalankan pemodelan terhadap skenario tersebut. Kendati demikian, sejumlah pakar militer yang diwawancarai BBC menilai invasi AS terhadap Kanada tetap sangat sulit dibayangkan.
Retorika Negara Bagian ke-51
Ketegangan tidak muncul dalam ruang kosong. Hubungan Ottawa-Washington berubah sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih.
Trump berulang kali melontarkan gagasan agar Kanada menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat. Pada Januari 2025, ketika ditanya apakah akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Kanada, Trump menepis opsi tersebut. Ia justru berbicara tentang penggunaan “kekuatan ekonomi”.
Reuters ketika itu mencatat pemerintah Kanada langsung menolak gagasan tersebut. Mantan Perdana Menteri Justin Trudeau menegaskan tidak ada peluang Kanada menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Namun, rangkaian perang tarif dan tekanan ekonomi kemudian memperlebar jarak kedua negara.
Carney bahkan pada 21 Agustus 2026 memutuskan menangguhkan perundingan dagang dengan Washington. Dalam pernyataan resmi pemerintah Kanada, Carney mengatakan perubahan syarat yang diajukan Amerika Serikat pada menit-menit terakhir dinilai tidak adil, tidak ekonomis, serta menimbulkan pertanyaan terhadap keandalan kesepakatan tersebut.
Pemerintah Kanada sejak itu semakin gencar mencari pasar baru di luar Amerika Serikat. Salah satunya terlihat dari rencana percepatan proyek pipa minyak Pacific Link untuk membuka akses ekspor yang lebih luas ke kawasan Asia dan mengurangi ketergantungan perdagangan terhadap pasar AS.
Sekutu yang Militernya Sangat Terintegrasi
Skenario konflik Kanada-AS terdengar paradoks karena sistem pertahanan kedua negara justru telah menyatu selama puluhan tahun.
Kanada dan Amerika Serikat mendirikan North American Aerospace Defense Command (NORAD) pada 1958. Komando militer binasional itu bertanggung jawab memantau dan mempertahankan wilayah udara Amerika Utara serta memberikan peringatan terhadap ancaman maritim.
Pemerintah Kanada menyebut Amerika Serikat sebagai sekutu militer terdekatnya. Kedua negara menjalankan operasi, latihan, pertukaran informasi, serta pertahanan udara bersama di bawah NORAD.
Hubungan militer tersebut bahkan masih berjalan di tengah ketegangan politik. Pada Agustus-September 2026, Panglima Angkatan Bersenjata Kanada Jenderal Jennie Carignan bersama Komandan U.S. Pacific Command Laksamana Samuel J. Paparo menjadi tuan rumah konferensi para panglima pertahanan Indo-Pasifik di Victoria, Kanada.
Karena itulah, mantan perwira Angkatan Udara Kanada Letnan Jenderal Christopher Coates mengatakan dirinya selama berkarier puluhan tahun tidak pernah membayangkan serangan militer dari wilayah AS.
Menurut dia, bila hubungan kedua negara sampai memburuk ekstrem, bentuk tekanan yang lebih mungkin muncul sebelum invasi terbuka adalah operasi nonkonvensional, termasuk perang siber.
Bagaimana Jika Benar-benar Diserang?
Militer Kanada tetap berkewajiban mempersiapkan skenario terburuk.
BBC mengutip laporan sebelumnya dari The Globe and Mail yang menyebut pemodelan militer Kanada memperkirakan posisi strategis negara itu dapat menghadapi tekanan berat dalam waktu relatif singkat apabila diserang kekuatan militer AS yang jauh lebih besar.
Dalam skenario hipotetis tersebut, pasukan Kanada dapat dipaksa mengubah pola peperangan apabila pertahanan konvensional tidak mampu menahan kekuatan lawan. Tetapi, model tersebut bukan indikasi bahwa perang akan terjadi ataupun bahwa Washington sedang mempersiapkan serangan.
Kanada sendiri memang tengah memperkuat kemampuan pertahanannya.
Data resmi Kementerian Pertahanan Kanada menunjukkan per 15 Maret 2026 terdapat sekitar 67 ribu personel reguler dan sekitar 24.900 anggota Primary Reserve. Jumlah itu masih sekitar 9.600 personel di bawah kekuatan yang telah ditetapkan.
Pemerintah juga pernah mengkaji pengembangan Supplementary Reserve hingga skala yang jauh lebih besar. Namun, dokumen resmi Kanada menegaskan rencana tersebut masih dalam tahap kajian, bersifat sukarela, dan belum memiliki jadwal maupun target perekrutan final.
NATO Bisa Ikut Terseret?
Persoalan lain adalah Kanada dan Amerika Serikat sama-sama anggota NATO.
Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara menyatakan serangan bersenjata terhadap satu anggota di Eropa atau Amerika Utara dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota dan setiap sekutu berkewajiban memberikan bantuan yang dianggap perlu.
Dalam sejarah NATO, Pasal 5 baru satu kali diberlakukan, yakni setelah serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat.
Belum pernah terjadi situasi ketika satu anggota NATO menyerang anggota NATO lainnya. Karena itu, bagaimana mekanisme aliansi tersebut bekerja jika konflik hipotetis Kanada-AS benar-benar terjadi akan memasuki wilayah politik dan hukum yang belum memiliki preseden.
Ironisnya, pada KTT NATO di Ankara, Juli 2026, Kanada dan Amerika Serikat bersama seluruh anggota NATO kembali menegaskan prinsip bahwa “serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua”.
Risiko Kecil, Pesannya Besar
Carney berkali-kali memberi penekanan bahwa serangan Amerika Serikat bukan prediksi pemerintah Kanada.
Kajian itu lebih menyerupai rencana kontingensi persiapan menghadapi kejadian yang kemungkinannya sangat kecil tetapi konsekuensinya sangat besar.
Pada Juli lalu, saat membuka pertemuan dengan para kepala pemerintahan provinsi Kanada, Carney bahkan menyinggung sejarah pembentukan Kanada yang sejak awal juga dibayangi kekhawatiran terhadap ekspansi Amerika. Ia kemudian mengaitkannya dengan tekanan perdagangan Washington saat ini.
Yang membuat pernyataan Carney penting bukan semata-mata peluang perang yang kecil.
Fakta bahwa pemerintah Kanada merasa perlu menghitung kemungkinan aksi militer dari Amerika Serikat menunjukkan betapa cepat hubungan internasional berubah.
Negara yang sejak 1958 berbagi sistem pertahanan udara, bertukar intelijen, berlatih bersama, serta berdiri dalam satu payung NATO kini merasa tetap harus menyiapkan jawaban terhadap satu pertanyaan yang dahulu terdengar mustahil:
Bagaimana jika ancaman justru datang dari sekutu terdekatnya sendiri?