Kamis, 24 September 2026
Beranda / Berita / Dunia / Konflik Tigray Kembali Memanas, Ethiopian Airlines Hentikan Penerbangan ke 3 Bandara

Konflik Tigray Kembali Memanas, Ethiopian Airlines Hentikan Penerbangan ke 3 Bandara

Rabu, 23 September 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Sebuah pesawat Ethiopian Airlines berada di landasan Bandara Manchester di Manchester, Inggris, pada 30 April 2026 [Foto: Phil Noble/Reuters]


DIALEKSIS.COM | Addis Ababa - Ethiopian Airlines menangguhkan sementara penerbangan ke tiga bandara di wilayah Tigray, Ethiopia, di tengah meningkatnya ketegangan dan aktivitas kelompok bersenjata di kawasan tersebut.

Dilansir dari AFP dan Reuters, Rabu (23/9/2026), penangguhan berlaku untuk penerbangan menuju Mekelle, Axum, dan Shire. Maskapai menyebut keputusan itu diambil karena "situasi terkini di wilayah Tigray".

"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pelanggan setia kami atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh penangguhan ini," kata Ethiopian Airlines melalui unggahan di Telegram.

Layanan pelacak penerbangan Flightradar24 juga menunjukkan penerbangan antara Mekelle dan Addis Ababa dibatalkan pada Rabu pagi.

Penangguhan penerbangan terjadi setelah pasukan Tigray dilaporkan mengambil alih Bandara Alula Aba Nega di Mekelle dari polisi federal pada Selasa malam.

Seorang karyawan bandara mengatakan kepada AFP bahwa para pekerja diminta kembali ke rumah setelah mendapat informasi bahwa bandara telah dikuasai pasukan Tigray.

Situasi ini terjadi setelah Tigray People's Liberation Front (TPLF) mengumumkan bersekutu dengan enam kelompok bersenjata lainnya untuk menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed.

Tigray sebelumnya menjadi pusat perang saudara Ethiopia pada 2020-2022. Konflik tersebut diperkirakan menewaskan sekitar 600.000 orang sebelum Perjanjian Damai Pretoria mengakhiri pertempuran.

Meski demikian, ketegangan kembali meningkat sejak akhir 2025. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran konflik besar kembali pecah, di tengah pemberontakan bersenjata yang juga terjadi di wilayah Oromia dan Amhara. [AFP, Reuters/Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI