Minggu, 06 September 2026
Beranda / Berita / Dunia / Negara-Negara Mulai Geser Emas dari AS, Kepercayaan Dunia Memudar?

Negara-Negara Mulai Geser Emas dari AS, Kepercayaan Dunia Memudar?

Sabtu, 05 September 2026 23:50 WIB

Font: Ukuran: - +

Kantor De Nederlandsche Bank (DNB). Foto: https://www.dnb.nl/


DIALEKSIS.COM | Dunia - Pergerakan puluhan ton emas dari Amerika Utara menuju Eropa kembali memantik pertanyaan besar: apakah kepercayaan dunia terhadap Amerika Serikat mulai terkikis?

Belanda menjadi negara terbaru yang menata ulang lokasi penyimpanan cadangan emasnya. De Nederlandsche Bank (DNB) memindahkan sekitar 86 ton emas dari New York dan Ottawa ke London dalam periode Maret hingga Agustus 2026. Langkah itu disebut sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan menghadapi krisis di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Namun, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya berupa pengangkutan emas secara fisik melintasi Samudra Atlantik. Sekitar 27 ton emas dipindahkan secara fisik dari Amerika Serikat dan Kanada ke fasilitas DNB di Zeist, Belanda. Pada saat bersamaan, emas dalam jumlah hampir setara dikirim dari Zeist ke London.

Sekitar 59 ton lainnya dialihkan melalui penjualan emas di New York dan pembelian kembali dalam jumlah sepadan di London.

Perubahan itu membuat komposisi penyimpanan emas Belanda menjadi lebih berimbang. Sebelum relokasi, New York menampung 31,3 persen cadangan emas DNB dan Ottawa 19,7 persen. Setelah penataan ulang, porsi di kedua kota masing-masing menjadi 18,5 persen.

Sementara bagian yang tersimpan di London naik dari 18,1 persen menjadi 32,1 persen. Sekitar 30,8 persen lainnya tetap berada di Belanda.

DNB menilai London memberikan akses lebih cepat terhadap pasar emas internasional. Emas yang disimpan di Bank of England juga memenuhi standar perdagangan global sehingga relatif lebih mudah dicairkan atau digunakan apabila terjadi krisis berat.

Dengan kata lain, relokasi tersebut bukan hanya menyangkut keamanan, tetapi juga likuiditas dan kecepatan akses.

Gubernur DNB Olaf Sleijpen menegaskan, bank sentral berharap cadangan itu tidak perlu digunakan. Meski demikian, ketahanan dan kesiapan menghadapi situasi darurat tetap harus diperkuat.

Belanda bukan negara Eropa pertama yang mengurangi penempatan emasnya di New York. Prancis dilaporkan melepas sekitar 129 ton emas yang tersimpan di Federal Reserve Bank of New York antara Juli 2025 dan Januari 2026.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 5 persen dari total cadangan emas Prancis. Hasil penjualannya kemudian digunakan untuk membeli emas dalam jumlah setara di Eropa dan menempatkannya di Paris.

Jauh sebelumnya, Jerman juga telah menjalankan program repatriasi emas. Bundesbank memindahkan 300 ton emas dari New York ke Frankfurt sebagai bagian dari rencana menempatkan separuh cadangan emas negara itu di dalam negeri.

Meski demikian, sebagian emas Jerman tetap disimpan di pusat-pusat keuangan internasional untuk menjaga fleksibilitas transaksi. Bundesbank menjelaskan penempatan emas di dalam negeri bertujuan membangun kepercayaan publik, sedangkan penyimpanan di luar negeri diperlukan agar emas dapat segera ditukar dengan mata uang asing.

Rangkaian kebijakan tersebut memperlihatkan kecenderungan bank-bank sentral menyebar risiko penyimpanan. Emas tidak lagi dipusatkan pada satu yurisdiksi, tetapi ditempatkan di dalam negeri dan sejumlah pusat perdagangan global agar tetap aman sekaligus mudah digunakan.

Survei Cadangan Emas Bank Sentral 2026 yang diterbitkan World Gold Council memperkuat kecenderungan itu. Sebanyak 10 persen responden menyatakan telah mendiversifikasi lokasi penyimpanan emas di luar negeri selama setahun terakhir, naik dari 2 persen pada survei sebelumnya.

Sementara itu, 9 persen responden meningkatkan penyimpanan emas di dalam negeri, naik dari 5 persen.

Survei yang melibatkan 76 bank sentral tersebut juga menunjukkan 89 persen pengelola cadangan memperkirakan kepemilikan emas bank sentral global akan meningkat dalam 12 bulan ke depan. Sebanyak 45 persen bahkan memperkirakan institusinya sendiri bakal menambah cadangan emas.

Alasannya berlapis. Emas dipandang mampu menjadi pelindung ketika krisis, instrumen diversifikasi portofolio, penahan inflasi, serta lindung nilai terhadap risiko geopolitik.

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh perang, sanksi, dan persaingan ekonomi, kemampuan menguasai dan mengakses langsung aset cadangan menjadi semakin penting.

Apakah semua ini berarti dunia tidak lagi percaya kepada Amerika Serikat? Kesimpulan tersebut masih terlalu jauh.

Pemindahan lokasi penyimpanan emas tidak memiliki hubungan langsung dengan nilai dolar AS. Keputusan Belanda juga didorong kebutuhan likuiditas karena London merupakan salah satu pusat perdagangan emas terbesar dan paling aktif di dunia.

Di sisi lain, gejalanya tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Survei World Gold Council mencatat 74 persen responden memperkirakan porsi dolar AS dalam cadangan global akan lebih rendah dalam lima tahun mendatang. Pada saat bersamaan, mereka menilai porsi emas akan meningkat.

Laporan Bank Sentral Eropa menunjukkan emas mencapai sekitar 27 persen dari total cadangan resmi global pada akhir 2025, melampaui porsi surat utang pemerintah AS sebesar 22 persen dan euro sebesar 15 persen.

Namun, ECB mengingatkan bahwa kenaikan porsi emas terutama dipengaruhi lonjakan harga. Jika dampak kenaikan harga dikeluarkan dari perhitungan, dominasi aset berdenominasi dolar masih terlihat kuat.

Dolar AS pun tetap menjadi mata uang utama transaksi global. Mata uang tersebut berada pada salah satu sisi hampir 90 persen perdagangan valuta asing dunia. Fakta ini menunjukkan pergeseran menuju emas berlangsung secara bertahap, bukan sebagai eksodus mendadak dari sistem keuangan Amerika.

Karena itu, pemindahan emas dari New York lebih tepat dibaca sebagai tanda perubahan strategi pengelolaan risiko. Bank-bank sentral ingin asetnya tersebar, mudah diakses, dan tidak terlalu bergantung pada satu negara atau pusat keuangan.

Amerika Serikat belum kehilangan posisinya sebagai poros keuangan dunia. Namun, ketika semakin banyak negara memilih membawa emas lebih dekat ke rumah atau memindahkannya ke yurisdiksi lain, Washington menghadapi pesan yang tak bisa diabaikan: dalam situasi geopolitik yang rapuh, kepercayaan global tidak lagi diberikan tanpa batas.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub