DIALEKSIS.COM | AS - Sebuah obat baru yang baru-baru ini disetujui untuk pengobatan kanker pankreas stadium lanjut, daraxonrasib, menunjukkan hasil menjanjikan dalam penanganan kanker paru-paru bukan sel kecil atau non-small cell lung cancer (NSCLC).
Dalam uji klinis tahap awal yang melibatkan 136 pasien, obat berbentuk pil tersebut mampu mengurangi ukuran tumor pada lebih dari 30 persen peserta. Seluruh pasien sebelumnya telah menjalani pengobatan lain, tetapi belum memperoleh hasil yang memadai.
Studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan, penyusutan tumor terjadi pada 31 persen pasien yang menerima dosis rendah, 34 persen pada kelompok dosis menengah, dan 37 persen pada kelompok dosis tertinggi.
Namun, pengobatan tersebut juga menimbulkan sejumlah efek samping. Hampir seluruh peserta mengalami efek samping, sementara 54 persen mengalami efek samping berat.
Keluhan yang paling sering dilaporkan meliputi ruam, diare, mual, dan muntah. Sejumlah pasien juga mengalami peradangan pada saluran pencernaan dan mulut, pneumonia, serta penurunan jumlah sel darah.
Meski demikian, hasil uji klinis ini membuka peluang baru dalam pengobatan kanker paru-paru, khususnya bagi pasien dengan mutasi protein RAS yang berkaitan dengan pertumbuhan tumor.
Daraxonrasib sebelumnya telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk pasien adenokarsinoma pankreas metastatik yang telah menjalani sedikitnya satu terapi sistemik.
Dalam uji klinis lanjutan terhadap 500 pasien kanker pankreas, obat tersebut meningkatkan median kelangsungan hidup keseluruhan menjadi lebih dari 13 bulan, hampir dua kali lipat dibandingkan sekitar 6,7 bulan pada pasien yang menjalani kemoterapi standar.
Meski menunjukkan hasil awal yang positif untuk kanker paru-paru, daraxonrasib masih memerlukan uji klinis tahap lanjut dengan jumlah peserta yang lebih besar sebelum dapat dipertimbangkan untuk memperoleh persetujuan FDA sebagai terapi kanker paru-paru. [abc news]

