DIALEKSIS.COM | Jakarta - Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, secara tegas mengecam rentetan serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi. Ia memberikan peringatan keras bahwa setiap bentuk ancaman terhadap kesucian dua kota suci umat Islam, yakni Mekkah dan Madinah, merupakan sebuah "garis merah yang tidak boleh dilanggar".
Pernyataan tegas dari pemimpin negara bersenjata nuklir tersebut disampaikan saat ia berpidato di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Jumat pekan lalu. Sharif menyebut manuver kelompok asal Yaman yang berafiliasi dengan Iran itu sebagai tindakan yang "tercela".
Sharif menambahkan, serangan yang menurut klaim Riyadh menargetkan kawasan Mekkah tersebut telah memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Namun, pihak Houthi dengan cepat menepis tuduhan itu dan menyebutnya sebagai "kebohongan keji".
Peringatan keras dari Pakistan ini tidak terlepas dari kesepakatan strategis yang baru saja dijalin. Bulan lalu, Pakistan bersama Arab Saudi dan Turki resmi menandatangani pakta pertahanan trilateral yang dikenal sebagai Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah. Salah satu poin krusial dalam pakta tersebut menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Sebagai langkah nyata dari kesepakatan tersebut, para pimpinan militer dari ketiga negara telah mengadakan pertemuan di Riyadh pada hari Jumat lalu. Berdasarkan pernyataan resmi militer Pakistan, pertemuan itu membahas secara komprehensif mengenai peningkatan pertukaran intelijen dan koordinasi militer.
Militer Pakistan menambahkan, para petinggi angkatan bersenjata juga meninjau situasi keamanan serta ancaman yang tengah dihadapi Arab Saudi. Ketiga negara sepakat menegaskan komitmen mereka terhadap pertahanan kolektif guna mewujudkan Kesepakatan Mekkah menjadi kerja sama yang efektif.
Mengenai bentuk dukungan riil yang akan diberikan kepada Riyadh, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan turut angkat bicara. Dalam wawancaranya bersama media Amerika Serikat, Newsweek, Erdogan menyatakan bahwa bantuan akan disesuaikan dengan eskalasi kondisi di lapangan.
"Dukungan dapat mencakup intelijen, logistik, atau amunisi, dengan kemungkinan bantuan militer yang lebih luas tergantung pada skala ancaman yang dihadapi," tegas Erdogan.
Kendati komitmen pertahanan telah disepakati, hingga saat ini Islamabad maupun Ankara masih menahan diri untuk tidak terlibat langsung ke dalam pusaran konflik bersenjata antara Riyadh dan kelompok Houthi.