Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Perang Iran Alihkan Fokus Dunia, Rusia Gencarkan Serangan Besar ke Ukraina

Perang Iran Alihkan Fokus Dunia, Rusia Gencarkan Serangan Besar ke Ukraina

Kamis, 26 Maret 2026 22:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi perang Rusia-Ukraina. [Foto: pikiranrakyat.com]

DIALEKSIS.COM | Moskow - Perang yang melibatkan Iran kini mengalihkan perhatian global dari konflik Rusia-Ukraina yang telah memasuki tahun kelima. Di tengah situasi tersebut, Rusia justru meningkatkan intensitas serangan, memanfaatkan pergeseran fokus internasional untuk memperkuat tekanan militernya di Ukraina.

Dalam sepekan terakhir, eskalasi konflik terlihat jelas. Rusia meluncurkan hampir 1.000 drone dan puluhan rudal ke wilayah Ukraina dalam salah satu serangan terbesar sejak perang dimulai. Sebagai balasan, Ukraina mengirimkan ratusan drone ke wilayah Rusia dan Krimea dalam operasi serangan jarak jauh berskala besar.

Konflik ini tetap menjadi isu utama bagi Eropa yang khawatir ambisi Moskow meluas. Namun, perhatian Amerika Serikat mulai terpecah akibat keterlibatannya dalam konflik di Timur Tengah. Pemerintahan AS bahkan menghentikan sementara pembicaraan damai dengan Rusia dan Ukraina, serta memperingatkan kemungkinan mengabaikan konflik jika diplomasi tidak membuahkan hasil.

Situasi semakin kompleks ketika kebijakan AS memberikan pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Rusia. Langkah ini memungkinkan Moskow kembali memperoleh miliaran dolar, yang dinilai Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy justru memperkuat kemampuan militer Rusia.

Di sisi lain, pengalihan sistem pertahanan udara Patriot dari Eropa ke Timur Tengah membuat Ukraina menghadapi ancaman kekurangan perlindungan. Zelenskyy menegaskan bahwa kebutuhan rudal pertahanan menjadi sangat mendesak, terutama di tengah meningkatnya serangan udara Rusia.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Ukraina berupaya menjalin kerja sama dengan negara-negara Teluk dengan menawarkan teknologi drone yang telah teruji di medan perang. Sebagai imbalannya, Kyiv berharap mendapatkan tambahan sistem pertahanan udara canggih.

Tidak hanya dari sisi militer, Ukraina juga menghadapi tekanan ekonomi. Bantuan pinjaman besar dari Uni Eropa senilai puluhan miliar euro masih tertahan akibat penolakan Hungaria, sehingga memperlambat pemulihan ekonomi dan pendanaan perang.

Di medan tempur, Rusia mulai memasuki fase awal ofensif musim semi dengan menargetkan wilayah timur Ukraina, khususnya kawasan Donbas. Pertempuran sengit terjadi di sepanjang garis depan lebih dari 1.200 kilometer, dengan Rusia terus mencoba menekan melalui kombinasi serangan darat dan udara.

Meski kemajuan Rusia relatif bertahap dan terbatas di wilayah pedesaan, Moskow masih menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Krimea yang dianeksasi sejak 2014. Strategi yang digunakan meliputi pengepungan kota dan penghancuran infrastruktur secara sistematis.

Serangan terhadap fasilitas energi dan wilayah sipil juga terus berlanjut, menyebabkan korban jiwa warga sipil yang signifikan. Sementara itu, Ukraina meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh dengan menargetkan fasilitas penting Rusia seperti kilang minyak dan pusat logistik militer hingga jauh ke dalam wilayah lawan.

Upaya perdamaian yang dimediasi AS hingga kini belum menunjukkan hasil berarti. Perbedaan mendasar, terutama terkait status wilayah dan jaminan keamanan, masih menjadi hambatan utama. Rusia pun dinilai tetap mempertahankan tuntutan maksimalisnya, sementara negara-negara Eropa menuduh Moskow hanya mengulur waktu untuk memperluas wilayah yang dikuasai.

Dalam situasi ini, dukungan militer dan finansial dari Barat dinilai menjadi faktor kunci bagi Ukraina untuk bertahan dan menekan ambisi Rusia di medan perang. [bh/AP]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI