DIALEKSIS.COM | Gaza - Serangan udara Israel di Gaza utara menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya pada Rabu (12/8/2026). Serangan tersebut menyasar sebuah kendaraan angkutan roda tiga atau tuk-tuk di dekat Bundaran Barat, Beit Lahiya.
Badan Pertahanan Sipil Gaza menyebut korban tewas bernama Mohanad Saada. Jenazah Saada bersama lima korban luka dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan Saada merupakan anggota tim pemeliharaan pemerintah kota. Saat serangan terjadi, ia disebut sedang dalam perjalanan pulang setelah memperbaiki sumur air yang rusak akibat operasi militer sebelumnya.
"Memang benar bahwa serangan udara dan operasi pembunuhan yang dilakukan Israel sempat terhenti hampir sepenuhnya selama lebih dari seminggu, namun hari ini pihak pendudukan kembali melancarkan serangan udara," kata Basal kepada AFP.
Sementara itu, militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan seorang komandan Hamas yang disebut sedang aktif merencanakan serangan terhadap pasukan Israel.
Meski intensitas serangan udara Israel dilaporkan menurun setelah adanya pembicaraan diplomatik internasional, serangan artileri darat dan drone masih terus berlangsung di sejumlah wilayah Gaza.
Wartawan Al Jazeera di Gaza melaporkan sedikitnya dua serangan Israel lainnya pada Rabu. Salah satunya merupakan serangan drone quadcopter di Khan Younis, Gaza selatan, yang melukai seorang ayah dan menyebabkan anaknya yang berusia 13 tahun mengalami luka parah.
Serangan lainnya berupa tembakan artileri di sekitar kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah.
Ayah korban mengatakan kepada Al Jazeera bahwa putranya terluka akibat serpihan ledakan. Ia mengaku baru saja membeli makanan dan sedang berjalan bersama anaknya ketika ledakan tiba-tiba terjadi.
Anaknya kemudian ditemukan dalam kondisi terluka dan harus mendapat perawatan medis.
Serangan Berlanjut di Tengah Upaya Diplomasi
Serangkaian serangan tersebut terjadi beberapa hari setelah Israel menolak versi terbaru rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.
Trump sebelumnya mengumumkan rencana 15 poin yang disebutnya sebagai rencana "bersejarah" dan disusun oleh Dewan Perdamaian. Salah satu poin utamanya adalah pelucutan senjata Hamas serta kelompok bersenjata lainnya di Gaza.
Trump menyebut langkah tersebut sebagai bagian penting menuju perdamaian dan keamanan jangka panjang.
Hamas telah menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi menolak dokumen itu pada Minggu.
Sejak gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober, serangan Israel dilaporkan masih menewaskan lebih dari 1.250 warga Palestina di Gaza, sebagian besar di antaranya warga sipil.
Secara keseluruhan, sedikitnya 73.388 warga Palestina dilaporkan tewas dan 174.259 lainnya terluka sejak perang di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023. [Aljazeera, AFP]