DIALEKSIS.COM | Oman - Sultan Qaboos bin Said al Said, penguasa Oman selama 50 tahun yang dikenal sebagai arsitek stabilitas dan netralitas negara di kawasan bergolak Timur Tengah, meninggal dunia pada 10 Januari 2020. Kepergiannya mengawali proses suksesi unik melalui pembukaan amplop tertutup yang berisi nama penerusnya: Haitham bin Tariq al Said. Pengumuman ini mengakhiri spekulasi panjang tentang masa depan kepemimpinan Oman, terutama karena Qaboos tidak memiliki anak atau pewaris langsung.
Sultan Qaboos naik tahta pada 1970 setelah menggulingkan ayahnya dalam kudeta istana yang damai. Selama lima dekade, ia membawa Oman dari negara terisolasi menjadi aktor kunci diplomasi regional. Kebijakan luar negerinya yang bijaksana dan netral menjadikan Oman sebagai penengah di tengah konflik negara tetangga.
Di bawah kepemimpinannya, Oman memfasilitasi pembebasan tiga pendaki AS yang ditahan Iran (2009), menjadi mediator dalam perundingan nuklir AS - Iran yang melahirkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015, dan menjaga hubungan dengan pihak-pihak berseberangan seperti Israel dan Iran.
Kesehatannya yang memburuk dalam beberapa tahun terakhir memicu kekhawatiran soal kelangsungan suksesi. Dua jet khusus kerajaan kerap membawanya ke Eropa untuk perawatan, sementara absennya dari acara publik memperkuat rumor tentang ketegangan internal keluarga kerajaan.
Haitham bin Tariq al Said, sepupu mendiang Sultan, resmi dinobatkan sebagai pemimpin baru. Lulusan Program Layanan Luar Negeri Universitas Oxford ini sebelumnya menjabat sebagai Menteri Kebudayaan Oman (2002“2020) dan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri.
Ia dikenal sebagai figur pro-Barat yang berpengalaman dalam diplomasi, termasuk memimpin Masyarakat Anglo-Oman. Dalam pidato pertamanya, Haitham berjanji melanjutkan kebijakan luar negeri Qaboos, seraya menegaskan komitmen untuk mendiversifikasi ekonomi Oman lewat inisiatif Oman 2040.
Meski warisan Qaboos memberikan fondasi stabil, Haitham dihadapkan pada tekanan geopolitik dari kekuatan regional dan global. Negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), AS, dan Iran diperkirakan akan mendorong Oman agar lebih memihak kepentingan mereka. Di sisi domestik, Haitham harus mengakselerasi modernisasi ekonomi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak tantangan berat mengingat cadangan hidrokarbon Oman terkecil di Teluk dan belum bergabung dengan OPEC.
Stabilitas dalam negeri Oman, didukung angkatan bersenjata profesional dan ajaran moderat Islam Ibadi, diprediksi tetap terjaga. Tidak seperti negara tetangga, Oman relatif kebal dari gelombang protes Arab Spring 2011, dan warganya jarang terlibat dalam kelompok ekstremis seperti ISIS.
Qaboos meninggalkan negara dengan pertumbuhan infrastruktur pesat, sistem pendidikan dan kesehatan modern, serta posisi diplomatik yang dihormati. Namun, Haitham kini harus membuktikan kemampuan mempertahankan keseimbangan kebijakan sambil menjawab tuntutan generasi muda akan lapangan kerja dan reformasi ekonomi.
“Kematian Sultan Qaboos adalah akhir dari sebuah era, tetapi Oman telah menyiapkan transisi yang mulus. Tantangan Haitham adalah menjaga netralitas sambil membuka pintu investasi asing,” ungkap analis Encyclopedia Geopolitica.