DIALEKSIS.COM | Internasional - Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran di tengah memanasnya konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Presiden AS Donald Trump dilaporkan semakin frustrasi karena Iran dinilai tetap bersikap keras meski telah digempur melalui operasi militer besar-besaran sejak akhir Februari lalu.
Laporan CNN menyebutkan, Trump kini mulai lebih serius mempertimbangkan opsi operasi tempur lanjutan dibanding terus mengedepankan jalur diplomasi untuk mengakhiri perang. Sejumlah pejabat senior pemerintahan AS mengungkapkan bahwa Gedung Putih semakin kehilangan kesabaran setelah Teheran dinilai tidak menunjukkan perubahan sikap terhadap proposal perundingan damai yang diajukan Washington.
Di internal kabinet Trump sendiri muncul perbedaan pandangan terkait langkah selanjutnya menghadapi Iran. Sebagian pejabat mendorong pendekatan yang lebih agresif melalui serangan terarah guna semakin melemahkan posisi Teheran. Namun sebagian lainnya masih berharap diplomasi dan negosiasi dapat dimaksimalkan sebelum keputusan militer yang lebih besar diambil.
Lingkaran dekat Trump juga dikabarkan meminta Pakistan sebagai mediator untuk lebih tegas menyampaikan tekanan Washington kepada Iran. Bahkan beberapa pejabat AS mulai mempertanyakan apakah Islamabad benar-benar menyampaikan ketidakpuasan Trump secara serius kepada Teheran.
Dua sumber CNN menyebut sebagian pejabat pemerintahan percaya Pakistan justru memberikan gambaran yang terlalu positif mengenai respons Iran dibanding kondisi sebenarnya di lapangan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump memang masih mencoba mengombinasikan diplomasi dan tekanan ekonomi untuk memaksa Iran menyetujui kesepakatan baru. Namun hingga kini, Iran disebut hampir tidak mengubah posisinya sejak Trump mengumumkan gencatan senjata pada April lalu.
“Yah, saya melihatnya, dan kalau saya tidak suka kalimat pertamanya, langsung saya buang,” ujar Trump kepada wartawan di Air Force One saat ditanya mengenai proposal terbaru Iran.
Sumber CNN juga menyebut Trump sangat terganggu dengan situasi Selat Hormuz yang hingga kini masih diblokade dan berada di bawah kendali penuh Iran. Kondisi tersebut dinilai mengganggu stabilitas energi global dan memperbesar tekanan ekonomi dunia.
Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa Trump masih membuka seluruh opsi dalam menghadapi Iran, meski diplomasi tetap menjadi prioritas utama pemerintahannya.
“Presiden Trump memiliki semua opsi yang tersedia. Namun preferensinya selalu diplomasi,” kata Kelly.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat hanya akan menerima kesepakatan yang mampu melindungi keamanan nasional negara tersebut.
Tekanan politik terhadap Trump juga semakin besar menjelang pemilu sela AS. Konflik berkepanjangan dengan Iran disebut mulai memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya akibat kenaikan harga energi dan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Frustrasi Trump juga semakin meningkat setelah kunjungannya ke China dan pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping tidak menghasilkan terobosan signifikan terkait konflik Iran maupun pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meski Trump mengklaim Xi mendukung pembukaan Selat Hormuz dan menolak pengembangan senjata nuklir Iran, pernyataan tersebut dinilai bukan hal baru karena sebelumnya juga pernah disampaikan Beijing.
Kini Trump dihadapkan pada pilihan sulit, yakni menentukan apakah operasi militer tambahan terhadap Iran akan menjadi langkah terbaik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal pemerintahannya. Konflik tersebut juga disebut telah memicu lonjakan harga bahan bakar, krisis energi di sejumlah negara, serta menekan tingkat persetujuan publik terhadap kebijakan ekonomi Gedung Putih.