Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Trump Ngamuk ke NATO soal Iran, Greenland Ikut Disenggol

Trump Ngamuk ke NATO soal Iran, Greenland Ikut Disenggol

Kamis, 09 April 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih, Rabu (8/4/2026). [Foto: msn.com]


DIALEKSIS.COM | AS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam NATO atas sikapnya yang dinilai tidak mendukung operasi militer Washington terhadap Iran. Kritik itu disampaikan usai pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih, Rabu (8/4/2026).

Melalui platform Truth Social, Trump menulis dengan huruf kapital bahwa NATO “tidak ada di sana ketika kita membutuhkannya, dan tidak akan ada di sana jika kita membutuhkannya lagi.” Pernyataan itu muncul sehari setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata.

Sebelumnya, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa sejumlah negara anggota NATO telah “mengabaikan rakyat Amerika” meski selama ini didukung pendanaan pertahanan dari Washington. Ia menyebut Trump akan menyampaikan kritik secara terbuka kepada pimpinan aliansi tersebut.

Ketegangan meningkat setelah beberapa negara NATO dilaporkan menolak membuka wilayah udara maupun mengirim dukungan militer untuk membantu operasi di Selat Hormuz, jalur energi strategis yang sempat terganggu akibat konflik. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa Trump dapat kembali mengancam menarik AS dari NATO.

Dalam pernyataan terpisah, Trump juga menghidupkan kembali wacana kontroversial terkait Greenland. Ia menyebut wilayah otonom Denmark itu sebagai “bongkahan es besar yang dikelola dengan buruk,” mengulang gagasan lama untuk mengambil alih wilayah tersebut.

Menanggapi kritik tersebut, Rutte mengakui adanya kekecewaan dari pihak AS, namun menegaskan bahwa banyak negara Eropa tetap berkontribusi melalui penyediaan pangkalan, logistik, dan dukungan intelijen. 

“Ini adalah gambaran yang lebih bernuansa. Tidak semua negara, tetapi sebagian besar telah memenuhi komitmennya,” ujarnya.

NATO sendiri, yang didirikan pada 1949, hanya pernah mengaktifkan klausul pertahanan bersama satu kali, yakni setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Hingga kini, belum jelas peran spesifik yang diharapkan Washington dari aliansi tersebut dalam konflik Timur Tengah. [Aljazeera-AFP-reuters]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI