DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta W Kamdani, menegaskan komitmennya untuk mendampingi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Aceh agar mampu naik kelas melalui penguatan digitalisasi, akses pasar, dan pembiayaan usaha.
Komitmen tersebut disampaikan Shinta saat menjadi keynote speaker dalam Bisnis Forum yang digelar APINDO Aceh di Grand Hotel Permata Hati, Banda Aceh, Kamis (21/5/2026).
Dalam paparannya, Shinta menegaskan bahwa fokus utama APINDO bukan sekadar melahirkan UMKM baru, melainkan memastikan UMKM yang telah ada mampu berkembang dan memiliki daya saing lebih kuat.
“Yang mau kita ciptakan bukan membentuk UMKM baru. Tapi UMKM yang ada bisa naik kelas. Tentunya kami dari Apindo, UMKM adalah salah satu program prioritas daripada DPN Apindo. Jadi kami di Apindo itu ingin membangun ekosistem UMKM masyarakat. Karena 96 persen pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM, maka mereka harus benar-benar diperkuat supaya bisa berkembang dan berdaya saing,” kata Shinta.
Ia mengaku senang melihat besarnya potensi UMKM di Aceh, terutama pada sektor kuliner, fesyen, pertanian, hingga ekonomi kreatif yang dinilai memiliki peluang besar menembus pasar nasional maupun internasional.
“Di Aceh ini banyak sekali potensi UMKM dan potensinya juga besar sekali. Tadi kami sudah berdialog dengan teman-teman UMKM dan mendengar langsung berbagai peluang serta tantangan yang mereka hadapi. Yang paling penting adalah bagaimana pengembangan UMKM ini bisa lebih terintegrasi supaya mereka tidak hanya masuk pasar lokal, tapi juga pasar luar negeri atau pasar ekspor,” ujarnya.
Menurut Shinta, penguatan kapasitas UMKM harus dilakukan melalui transformasi digital dan pemanfaatan teknologi agar pelaku usaha mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.
“Peningkatan kapasitas UMKM itu sangat penting, terutama melalui akses digital. Teknologi dan digitalisasi bisa membantu integrasi usaha sekaligus meningkatkan kapasitas UMKM agar lebih siap bersaing.
Apalagi sekarang mayoritas pelaku UMKM itu generasi muda dan banyak juga perempuan, khususnya di sektor kuliner dan fashion. Kalau ini dikolaborasikan dengan bisnis digital, tentu peluang pertumbuhannya sangat besar,” jelasnya.
Selain digitalisasi, Shinta juga menyoroti pentingnya akses pasar dan integrasi UMKM dalam rantai pasok perusahaan besar agar usaha kecil tidak berjalan sendiri.
“Kedua adalah akses pasar, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri. Bagaimana UMKM bisa terintegrasi dalam rantai pasok perusahaan-perusahaan besar. Dan yang ketiga adalah pembiayaan. Ini sangat penting, karena pelaku UMKM tidak bisa berkembang hanya bermodal semangat tanpa dukungan modal usaha yang kuat,” tegasnya.
Shinta mengungkapkan hingga saat ini banyak program UMKM di berbagai kementerian, namun belum terhubung dalam satu sistem yang terpadu sehingga manfaatnya belum maksimal dirasakan pelaku usaha di daerah.
“Program UMKM banyak di kementerian, tapi belum terhubung dalam sistem kerja yang terpadu. Karena itu Apindo hadir untuk membantu membangun ekosistem yang lebih terintegrasi agar UMKM benar-benar bisa tumbuh,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa APINDO memiliki sejumlah program prioritas seperti UMKM Merdeka dan UMKM Akademi yang dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan, pendampingan, hingga kolaborasi dengan perguruan tinggi dan perusahaan besar.
“Dalam program UMKM Merdeka, mahasiswa bisa magang di UMKM dan ada pendampingan dari perusahaan-perusahaan besar. Jadi UMKM tidak berjalan sendiri. Mereka diberikan pelatihan dan perhatian khusus supaya bisa berkembang lebih cepat,” ujarnya.
Shinta turut menyoroti besarnya potensi ekonomi Aceh yang dinilai belum sepenuhnya tergarap optimal. Ia menyebut aktivitas ekspor Aceh saat ini sudah mencapai sekitar 66 persen dari total nilai ekonomi daerah.
“Minyak nilam Aceh diekspor ke Prancis, kopi Gayo juga masih menjadi primadona di Eropa. Potensi Aceh luar biasa besar. Karena itu mari kita jadikan Aceh bukan hanya kaya akan potensi, tapi juga kuat dalam eksekusi, inovasi, dan daya saing,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPP APINDO Aceh, Ramli, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua Umum DPN APINDO di Aceh. Menurutnya, kehadiran Shinta menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara APINDO pusat dan pelaku UMKM di Aceh.
“Inilah mimpi kami sebenarnya. Mendatangkan Ibu Shinta ke Aceh bukan hal mudah, tapi Alhamdulillah hari ini bisa terwujud. Harapan kami, DPP Apindo Aceh bukan hanya sekadar organisasi pengusaha, tetapi benar-benar bisa berkolaborasi dengan UMKM di Aceh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Ramli.
Ia menilai kondisi ekonomi Aceh saat ini membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, dan pelaku UMKM agar pertumbuhan ekonomi dapat bergerak lebih kuat dari bawah.
“Kondisi ekonomi Aceh saat ini memang membutuhkan dukungan bersama. Dengan UMKM, ekonomi Aceh bisa tumbuh dari bawah. Karena itu kami siap mendukung pemerintah dan terus membina UMKM supaya ekonomi Aceh ke depan menjadi lebih baik,” pungkasnya. [nh]