DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh mendorong para pekebun sawit agar lebih kreatif memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di sekitar kebun.
Salah satunya dengan mengolah batang sawit yang sudah ditebang menjadi sumber ekonomi baru.
Hal tersebut disampaikan Plt. Kadistanbun Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, saat menjadi narasumber dalam pelatihan teknis budidaya kelapa sawit yang digelar di Hotel Mekkah dan secara daring dari Hotel Amel, Banda Aceh.
Dalam kegiatan tersebut, Azanuddin mengangkat tema "Pemanfaatan Limbah Batang Sawit sebagai Alternatif Ekonomi Baru".
Menurutnya, batang sawit yang telah ditebang sebenarnya memiliki nilai ekonomi cukup tinggi apabila dikelola dengan baik. Salah satunya dengan memanfaatkan nira untuk bahan baku pembuatan gula sawit.
Azanuddin menyebut satu batang sawit dapat menghasilkan sekitar 5-15 liter nira per hari selama kurang lebih dua bulan. Jika produksi minimal mencapai 5 liter per hari, satu batang dapat menghasilkan sekitar 300 liter nira dalam dua bulan.
"Kalau dimanfaatkan dengan baik, ini bisa menjadi sumber pendapatan. Bahkan potensinya bisa mencapai Rp60 juta sampai Rp200 juta per hektare dalam dua bulan," ujar Azanuddin.
Ia menegaskan, pemanfaatan tidak hanya terbatas pada batang sawit. Pelepah dapat diolah menjadi lidi sawit, sedangkan daun sawit bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak melalui pengolahan sederhana.
Para pekebun juga didorong memanfaatkan sumber daya yang tersedia di kebun untuk menekan biaya produksi. Salah satunya dengan membuat pupuk organik sendiri.
"Jangan semua harus kita beli di pasar. Saya yakin para pekebun mampu membuatnya," katanya.
Selain itu, Azanuddin mengajak pekebun memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menanam kebutuhan pangan rumah tangga seperti bayam, sawi, ubi kayu, kacang panjang dan cabai.
Dengan cara tersebut, pengeluaran rumah tangga dapat ditekan sehingga sebagian dana bisa dialihkan untuk kebutuhan lain, seperti pendidikan anak, kesehatan maupun tabungan.
"Tidak ada yang tidak bisa kalau kita mau bergerak. Tidak ada seribu langkah tanpa satu langkah dan tidak ada satu miliar tanpa satu rupiah," ujarnya.
Pelatihan tersebut merupakan kerja sama Distanbun Aceh dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Best Planter Indonesia (BPI).
Kegiatan ini menjadi salah satu strategi meningkatkan sumber daya manusia pekebun sawit, dengan tujuan mendorong peningkatan produksi, produktivitas dan pendapatan.
Pelatihan oleh BPI dipimpin Direktur Operasional Friandito, SP, MM. Dalam pembukaan kegiatan turut hadir Kabid PPSDMP Mukhlis, SP, MA, Kabid Produksi Perkebunan Fakhrurrazi, SP, M.Sc, serta sejumlah staf terkait.
Azanuddin mengatakan, pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, khususnya dalam mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis sektor unggulan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kelapa sawit, kata dia, merupakan salah satu komoditas unggulan daerah dan nasional. Karena itu, peningkatan kapasitas pekebun dinilai penting, selain dukungan terhadap kebutuhan bibit, pupuk, air dan sarana prasarana.
2.548 Pekebun Sudah Dilatih
Distanbun Aceh mencatat jumlah pekebun sawit yang mendapat pelatihan terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2024, sebanyak 236 pekebun mengikuti pelatihan. Mereka berasal dari Aceh Barat sebanyak 111 orang dan Nagan Raya 125 orang.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 669 pekebun pada 2025, terdiri dari 424 orang asal Aceh Tamiang dan 245 orang dari Aceh Timur.
Sementara pada 2026, jumlah peserta kembali meningkat menjadi 1.643 orang. Rinciannya, Subulussalam 94 orang, Aceh Singkil 365 orang, Aceh Tamiang 421 orang dan Aceh Timur 703 orang.
Dengan demikian, total pekebun yang mengikuti pelatihan sepanjang 2024-2026 mencapai 2.548 orang.
Pelatihan budidaya kelapa sawit dari hulu hingga hilir tersebut difasilitasi secara teknis oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI dengan pendanaan dari BPDP.
Dinas perkebunan kabupaten berperan dalam pendataan dan verifikasi calon peserta. Sementara pemerintah provinsi melakukan verifikasi serta mengompilasi usulan dari kabupaten/kota.
Azanuddin mengimbau kabupaten/kota sentra sawit di Aceh agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mengusulkan sebanyak-banyaknya pekebun sesuai kriteria.
"Ini kesempatan emas bagi kita. Selain peremajaan sawit rakyat serta sarana dan prasarana, pemerintah juga membantu melalui peningkatan sumber daya manusia," katanya.
Ia juga meminta para pekebun yang telah mengikuti pelatihan pada 2024, 2025 dan 2026 untuk menerapkan ilmu yang diperoleh.
Dinas perkebunan kabupaten diminta ikut mengawal penerapan hasil pelatihan secara berkala. Distanbun Aceh juga berencana melakukan evaluasi melalui Bidang PPSDMP untuk mengetahui perkembangan dan dampak program tersebut.
Sementara itu, pelatihan yang dilaksanakan BPI berlangsung dalam dua gelombang. Gelombang I digelar 31 Agustus-5 September 2026 dengan 192 peserta dari Aceh Timur.
Materi teori dilaksanakan di Hotel Mekkah dan Hotel Amel, sedangkan praktik lapangan digelar di Koperasi Berkat Bunga Damai, Cot Girek, Aceh Utara.
Koperasi tersebut diketahui telah memperoleh sertifikat RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), salah satu sertifikasi sawit berstandar internasional.
Adapun Gelombang II berlangsung pada 7-12 September 2026 dengan 181 peserta yang juga berasal dari Aceh Timur. Untuk kegiatan field trip, peserta mengunjungi PT ASN Bate Puteh, Aceh Barat.