Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Bencana Banjir Diprediksi Tambah Pengangguran Aceh Tahun 2026

Bencana Banjir Diprediksi Tambah Pengangguran Aceh Tahun 2026

Kamis, 08 Januari 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Analis Kebijakan Publik Lembaga kajian Saman Strategic Indonesia (SSI), Jabal Ali Husin Sab. Dokumen untuk dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Lembaga kajian Saman Strategic Indonesia (SSI) dalam kajian terbarunya memperkirakan bahwa angka pengangguran di Aceh berpotensi melonjak hingga 13 persen dari total angkatan kerja pada tahun 2026. 

Lonjakan ini terutama dipicu oleh rusaknya lahan pertanian, khususnya area persawahan yang menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat Aceh akibat banjir akhir November 2025 lalu.

Analis Kebijakan Publik SSI, Jabal Ali Husin Sab, menyebutkan bahwa banjir telah menghantam sektor pertanian secara masif dan berpotensi memutus mata pencaharian ratusan ribu pekerja.

“Perkiraan lonjakan angka pengangguran ini merupakan estimasi awal dari dampak rusaknya area lahan pertanian atau sawah masyarakat akibat bencana banjir. Hampir sepertiga lahan sawah terdampak, sehingga dapat diperkirakan sepertiga pekerja di sektor pertanian kehilangan pekerjaan,” ujar Jabal dalam keterangannya kepada media dialeksis.com di Banda Aceh, Kamis, 8 Januari 2026.

SSI mencatat, luas area panen padi Aceh pada tahun 2024 mencapai sekitar 301.196 hektare. Namun, bencana banjir menyebabkan sekitar 89 ribu hektare lahan sawah terdampak, atau hampir sepertiga dari total area persawahan di Aceh.

Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada produksi pangan, tetapi juga langsung memukul struktur ketenagakerjaan di sektor pertanian, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pedesaan.

Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 tahap I, jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) di Aceh tercatat mencapai 646.223 orang. Jika sepertiga area sawah tidak dapat digarap, maka sekitar 200 ribu petani dan pekerja sektor pertanian diperkirakan terancam kehilangan pekerjaan.

“Dari area sawah yang terdampak bencana, kami memperkirakan sekitar 200 ribu orang yang bekerja di sektor pertanian di Aceh berpotensi tidak dapat menggarap lahan pada tahun 2026. Secara statistik, mereka dapat dikategorikan sebagai pengangguran,” terang Jabal.

SSI memperkirakan, dampak bencana ini berpotensi melahirkan pengangguran baru dalam jumlah besar pada tahun 2026. Jika angka kehilangan pekerjaan di sektor pertanian mencapai 200 ribu orang, maka beban ekonomi Aceh akan meningkat signifikan.

Sebagai perbandingan, jumlah angkatan kerja Aceh pada tahun 2024 tercatat sekitar 2,60 juta jiwa. Dengan tambahan pengangguran baru sekitar 200 ribu orang, maka angka pengangguran diperkirakan bertambah sekitar 8 persen.

“Jika dikombinasikan dengan angka pengangguran yang sudah ada sebelumnya, maka total tingkat pengangguran di Aceh pada 2026 berpotensi mencapai 13 persen. Ini lonjakan yang sangat serius,” kata Jabal.

Ia menilai, situasi ini tidak boleh dipandang sebagai dampak jangka pendek semata, karena efek lanjutan dari lumpuhnya sektor pertanian akan menjalar ke sektor lain, mulai dari perdagangan, jasa, hingga industri pengolahan hasil pertanian.

Lebih lanjut, SSI mengingatkan bahwa sektor pertanian di Aceh tidak hanya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi juga menjadi penggerak utama perputaran ekonomi di tingkat lokal. Ketika petani tidak bisa menggarap sawah, maka daya beli masyarakat desa akan menurun drastis.

“Ketika sektor pertanian lumpuh, efek dominonya sangat besar. Warung sepi, distribusi pangan terganggu, dan aktivitas ekonomi masyarakat bisa macet,” jelas Jabal.

Menurutnya, tanpa intervensi cepat dari pemerintah, dampak sosial seperti meningkatnya kemiskinan, kerentanan sosial, hingga potensi konflik ekonomi bisa semakin membesar.

SSI mendesak langkah paling mendesak yang harus dilakukan pemerintah untuk menekan lonjakan pengangguran adalah memastikan perbaikan dan pemulihan area persawahan dilakukan secepat mungkin.

Ia menambahkan, pemerintah perlu menjadikan pemulihan sektor pertanian sebagai prioritas utama dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir, bukan hanya fokus pada infrastruktur umum.

“Kalau sawah tidak bisa ditanami, ekonomi masyarakat berpotensi lumpuh. Ini bukan sekadar soal produksi pangan, tapi soal kelangsungan hidup ratusan ribu keluarga di Aceh,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI