Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / BPMA Kejar Lifting Migas 2026 di Tengah Krisis Infrastruktur

BPMA Kejar Lifting Migas 2026 di Tengah Krisis Infrastruktur

Minggu, 08 Februari 2026 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menargetkan lifting kondensat 1.880 barel per hari (BOPD) dan produksi gas 48,40 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dalam Work Program & Budget (WP&B) 2026. [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Prospek lifting minyak dan gas bumi (migas) Aceh pada 2026 masih dinilai berpeluang meningkat. Namun jalan menuju target tersebut tidak mulus. Serangkaian bencana dan insiden operasional sepanjang 2025 menjadi bayang-bayang serius bagi kesiapan produksi tahun ini.

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menargetkan lifting kondensat 1.880 barel per hari (BOPD) dan produksi gas 48,40 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dalam Work Program & Budget (WP&B) 2026. Secara gabungan, target lifting setara 10.519 barrel oil equivalent per day (BOEPD).

Produksi ini bertumpu pada tiga wilayah kerja utama: WK A yang dioperasikan PT Medco E&P Malaka, WK B oleh PT Pema Global Energi, serta WK Pase yang dikelola Triangle Pase Inc.

Namun dampak banjir dan longsor pada 2025 masih terasa hingga kini. Situasi diperparah oleh kebakaran tangki kondensat F-2101 di fasilitas Arun yang memaksa penerapan skema injeksi kondensat selama sekitar tiga bulan. Langkah teknis tersebut membuat produksi minyak turun menjadi 1.603 BOPD, meski produksi gas tetap stabil di angka 48,40 MMSCFD.

Akibatnya, total lifting gabungan turun menjadi 10.246 BOEPD -- lebih rendah 273 BOEPD dibanding target awal.

Kondisi ini menyoroti tantangan struktural yang dihadapi industri migas Aceh. Sejumlah fasilitas produksi dinilai membutuhkan peremajaan, sementara ketergantungan pada fasilitas pihak ketiga membatasi kendali langsung operator terhadap operasi dan perawatan. Di sisi lain, ketersediaan peralatan untuk pengeboran, workover, dan well service juga menjadi faktor penentu pencapaian target produksi.

Pasca insiden Arun, BPMA bersama para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) kini memacu langkah strategis untuk menstabilkan produksi minyak. Penyesuaian jalur penyaluran kondensat dilakukan agar produksi dapat kembali optimal dan penurunan lifting bisa ditekan.

Di sisi lain, peluang ekspansi masih terbuka. Sejumlah wilayah kerja baru berstatus open area mulai menarik minat investor nasional maupun asing. Jika proses investasi berjalan lancar, tambahan wilayah ini berpotensi menjadi sumber produksi baru yang menopang lifting migas Aceh dalam jangka menengah.

Tahun 2026 pun diproyeksikan menjadi periode krusial bagi BPMA: antara menjaga keandalan produksi eksisting, memperbaiki infrastruktur, dan membuka peluang investasi baru. Keberhasilan menyeimbangkan ketiga aspek tersebut akan menentukan apakah target lifting ambisius dapat tercapai atau justru kembali tergerus oleh risiko operasional yang belum sepenuhnya pulih.


Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI