DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Izarul Machdar, M.Eng., menjelaskan dua hal yang harus dipahami publik terkait Blok Andaman.
Pertama, telah terjadi distorsi pemahaman publik terkait Blok Andaman, terutama tentang aliran gas yang disebut-sebut akan langsung dibawa keluar Aceh.
Izarul mengatakan dirinya telah mempelajari dokumen pengembangan yang beredar dan tidak menemukan adanya rencana penyaluran gas langsung dari Blok Andaman ke wilayah lain tanpa melalui Aceh. Ia menegaskan gas dari Lapangan Andaman akan dialirkan terlebih dahulu ke Lhokseumawe sebelum diteruskan melalui jaringan pipa yang telah ada.
"Saya sudah membaca dokumen itu. Gas dialirkan ke Lhokseumawe. Tidak ada yang dialirkan langsung ke Jawa. Pipa yang ada ke Belawan itu berasal dari Lhokseumawe. Tidak ada pipa dari Andaman ke Belawan," kata Prof. Izarul kepada Dialeksis, Sabtu, 18 Juli 2026.
Kedua, lanjut Prof. Izarul, perdebatan publik seharusnya tidak terjebak pada informasi yang belum terverifikasi. Ia menilai diskusi yang lebih penting justru menyangkut bagaimana Aceh dapat memperoleh manfaat maksimal dari keberadaan cadangan gas besar tersebut melalui pengembangan industri hilir.
Ia menjelaskan bahwa gas yang telah diproses dan dimurnikan di fasilitas lepas pantai dapat menjadi fondasi bagi pembangunan industri strategis di Aceh. Salah satu peluang yang dinilai sangat potensial adalah pembangunan pabrik metanol di kawasan Lhokseumawe.
"Harusnya ruang diskusi kita bergeser ke bagaimana potensi ini dimaksimalkan sebagai peluang kemandirian gas bagi rakyat Aceh," ujarnya.
Izarul menilai keberadaan pasokan gas yang relatif terjamin dari Blok Andaman dapat menjadi modal penting untuk menghidupkan kembali kawasan industri di Lhokseumawe. Selain mendukung kebutuhan energi, gas tersebut juga dapat menjadi bahan baku bagi berbagai industri turunan yang memiliki nilai tambah tinggi.
Dikatakan Prof. Izarul, pembangunan pabrik metanol memiliki prospek yang sangat menjanjikan karena kebutuhan metanol nasional terus meningkat, terutama untuk mendukung program energi pemerintah seperti biodiesel dan pengembangan bahan bakar campuran B50.
"Biodiesel membutuhkan metanol. Saat ini di Indonesia pabrik metanol sangat terbatas. Kalau di Lhokseumawe bisa dibangun pabrik metanol melalui hilirisasi gas, itu akan membuka banyak peluang industri turunan lainnya karena kita memiliki jaminan pasokan gas," jelasnya.
Karena itu, Izarul mengajak seluruh pemangku kepentingan di Aceh untuk mengarahkan perhatian pada strategi pemanfaatan gas bagi pembangunan daerah. Menurutnya, fokus utama saat ini bukan sekadar memperdebatkan jalur distribusi gas, melainkan memastikan sumber daya tersebut mampu mendorong lahirnya industri baru, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian energi Aceh di masa depan.