DIALEKSIS.OM | Jakarta - Industri perhiasan nasional dinilai memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global. Berbasis desain, keterampilan, dan inovasi, sektor ini tak hanya mengandalkan komoditas, tetapi juga mengangkat nilai estetika dan identitas budaya Indonesia.
Produk perhiasan Tanah Air dikenal unggul lewat ragam desain serta penggunaan material seperti emas, perak, mutiara, dan batu mulia. Tren global yang mengarah pada produk handmade, custom design, dan sustainable jewellery turut membuka peluang ekspor yang lebih luas.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah akan terus menghadirkan kebijakan strategis untuk memperkuat produksi dan ekspor perhiasan nasional. Dukungan diberikan melalui perluasan akses pasar, peningkatan kapasitas usaha, hingga pengembangan ekspor.
Sepanjang 2025, melalui Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Kemenperin menjalankan berbagai program seperti fasilitasi pameran, e-Smart IKM, workshop ekspor, Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), serta bimbingan teknis. Pada 2026, program restrukturisasi mesin dan percepatan transformasi industri 4.0 juga akan dilanjutkan guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Kinerja ekspor pun menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kumulatif perhiasan dan barang berharga periode Januari-November 2025 mencapai USD 8,4 miliar. Angka tersebut melonjak 65,29% dibandingkan total ekspor sepanjang 2024 yang sebesar USD 5,5 miliar.
Pemerintah berharap kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah dapat memperkuat ekosistem industri perhiasan yang lebih kokoh, berkelanjutan, serta berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional. [red]