Kamis, 04 Juni 2026
Beranda / Ekonomi / Ekspor Tenun Indonesia Capai 14,1 Ton, Kemenperin Genjot Diversifikasi Produk

Ekspor Tenun Indonesia Capai 14,1 Ton, Kemenperin Genjot Diversifikasi Produk

Rabu, 03 Juni 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri
Kain tenun Indonesia. [Foto: bank sinarrmas]

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri kain tenun nasional melalui program diversifikasi produk guna memperluas pasar domestik dan ekspor. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, mengatakan Indonesia saat ini memiliki 482 sentra IKM tenun yang tersebar di berbagai daerah. Potensi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat industri tenun nasional di tengah meningkatnya minat pasar terhadap produk fesyen berbasis budaya.

"Berdasarkan data Pusdatin Kemenperin, ekspor produk tenun ikat Indonesia pada tahun 2025 mencapai 14,1 ton dengan nilai sebesar US$88.600. Capaian ini menunjukkan bahwa produk tenun tradisional memiliki peluang pasar internasional yang perlu terus ditingkatkan," kata Reni, Rabu (3/6/2026).

Meski memiliki peluang besar, pelaku IKM tenun masih menghadapi tantangan dalam pengembangan desain dan inovasi produk. Selama ini, kain tenun lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan formal dan acara adat, sehingga diperlukan terobosan agar dapat digunakan pada produk fesyen sehari-hari yang lebih diminati konsumen.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Ditjen IKMA Kemenperin bekerja sama dengan Dekranasda Kota Kediri dan Universitas Ciputra Surabaya menggelar Bimbingan Teknis Diversifikasi Produk Tenun pada 18-22 Mei 2026. Program ini mempertemukan 10 IKM tenun dan 10 IKM fesyen untuk mengembangkan berbagai produk berbasis tenun.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, menegaskan diversifikasi produk menjadi strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah industri tenun. "Diversifikasi bukan berarti meninggalkan budaya. Justru melalui kreativitas dan inovasi, nilai budaya yang terkandung dalam tenun dapat terus hidup dan semakin relevan dengan perkembangan selera pasar saat ini," ujarnya.

Melalui kolaborasi tersebut, pelaku usaha didorong menghasilkan produk fesyen seperti pakaian jadi, tas, aksesori hingga alas kaki berbahan tenun. Kemenperin berharap sinergi antara IKM tenun dan IKM fesyen dapat memperkuat rantai pasok industri kreatif nasional serta meningkatkan daya saing produk tenun Indonesia di pasar global. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI