Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Film Dokumenter Soroti Kacang Koro Pedang Solusi Gantikan Kedelai Impor di Aceh

Film Dokumenter Soroti Kacang Koro Pedang Solusi Gantikan Kedelai Impor di Aceh

Kamis, 30 April 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Film dokumenter bertajuk Ketahanan Pangan Aceh: Pembangunan Ekosistem Bisnis Kacang Koro Pedang yang digelar di Perpustakaan Wilayah Aceh, Rabu (29/4/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kenaikan harga kedelai impor kembali menyoroti rapuhnya sistem pangan di Indonesia, khususnya bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku tersebut.

Hal ini mengemuka dalam kegiatan pemutaran dan diskusi film dokumenter bertajuk Ketahanan Pangan Aceh: Pembangunan Ekosistem Bisnis Kacang Koro Pedang yang digelar di Perpustakaan Wilayah Aceh, Rabu (29/4/2026).

Direktur sekaligus Founder Rumoh Pangan Aceh (RPA), Rivan Rinaldi, menegaskan bahwa ketergantungan terhadap kedelai impor menjadi persoalan serius yang harus segera diatasi melalui diversifikasi pangan berbasis lokal.

“Indonesia saat ini masih mengimpor sekitar 3,2 juta ton kedelai setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan industri tempe dan tahu. Kenaikan harga kedelai seperti sekarang ini berdampak langsung pada pelaku usaha kecil.

Ketergantungan ini membuat mereka sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan gangguan rantai pasok,” ujar Rivan dalam diskusi tersebut yang dihadiri media dialeksis.com.

Menurutnya, kondisi ini menjadi alarm penting bagi semua pihak untuk mulai membangun kemandirian pangan dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia, salah satunya kacang koro pedang.

Film dokumenter yang diputar dalam kegiatan tersebut menampilkan perjalanan pengembangan tempe berbahan dasar koro pedang di sejumlah daerah, termasuk Aceh dan Bogor.

Mulai dari proses budidaya oleh petani, pengolahan oleh perajin, hingga peluang pasar yang terus berkembang, seluruh rangkaian itu menunjukkan bahwa koro pedang memiliki prospek besar sebagai alternatif kedelai impor.

Diskusi yang melibatkan akademisi, praktisi, pemerintah, komunitas, hingga pelaku usaha ini turut mengupas berbagai tantangan dan peluang dalam pengembangan komoditas tersebut. Mulai dari peningkatan kualitas produksi hingga strategi pemasaran agar dapat diterima luas oleh masyarakat.

Rivan menambahkan, kacang koro pedang memiliki keunggulan karena mampu tumbuh di lahan marginal serta memiliki kandungan protein nabati yang kompetitif. Bahkan, hasil kajian Bappenas tahun 2026 telah merekomendasikan komoditas ini sebagai salah satu pangan lokal unggulan yang potensial dikembangkan di Aceh.

Selain memperkuat ketahanan pangan, pengembangan koro pedang juga mulai menunjukkan dampak ekonomi yang nyata di tingkat masyarakat. Peningkatan jumlah petani yang mulai membudidayakan komoditas ini diikuti dengan tumbuhnya unit-unit pengolahan tempe berbasis koro pedang, yang tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga memperluas ruang pemberdayaan, khususnya bagi perempuan.

Salah satu kisah datang dari Nurma, perajin tempe di Rumah Tempe Nusa yang turut hadir sebagai penonton dalam pemutaran film dokumenter tersebut. Ia mengaku, kehadiran usaha pengolahan koro pedang telah membawa perubahan berarti dalam kehidupannya.

“Kami sangat senang dengan adanya Rumah Tempe Nusa. Sekarang kami sudah memiliki penghasilan sendiri, sehingga untuk kebutuhan kecil tidak perlu lagi meminta kepada suami. Kami juga bisa membantu ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Lebih jauh, Nurma menuturkan bahwa sebelumnya ia tidak memiliki sumber penghasilan tetap. Keterlibatannya dalam produksi tempe koro pedang tidak hanya memberinya pendapatan, tetapi juga keterampilan baru serta rasa percaya diri untuk berkontribusi dalam ekonomi rumah tangga.

“Dulu kami hanya di rumah saja, sekarang sudah ada kegiatan yang menghasilkan. Kami jadi lebih mandiri, bisa menabung sedikit demi sedikit, dan merasa lebih dihargai karena ikut membantu kebutuhan keluarga,” tambahnya.

Menurutnya, selain aspek ekonomi, kebersamaan antarperajin juga menjadi nilai penting. Mereka saling belajar, berbagi pengalaman, hingga memperkuat solidaritas sebagai kelompok perempuan yang produktif.

Kegiatan ini merupakan inisiatif Rumoh Pangan Aceh yang berkolaborasi dengan Rumoh Tempe Nusa serta didukung oleh Global Alliance for Improved Nutrition. Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan membangun ekosistem pangan lokal berbasis koro pedang secara berkelanjutan, dari hulu hingga hilir. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI