Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Gejolak Global Tekan Plastik, Kemenperin Genjot Kemasan Ramah Lingkungan

Gejolak Global Tekan Plastik, Kemenperin Genjot Kemasan Ramah Lingkungan

Kamis, 23 April 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan, pelaku industri mulai melakukan diversifikasi bahan kemasan, seperti kertas, kaca, logam, hingga plastik daur ulang seperti recycled PET (rPET). [Foto: dok. Kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan industri agro nasional, khususnya makanan dan minuman (mamin), tetap mampu menjaga keberlanjutan produksi, meski dibayangi gejolak global yang berpotensi mengganggu pasokan bahan baku plastik. 

Pemerintah kini mendorong percepatan penggunaan bahan kemasan alternatif untuk menjaga daya saing industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dapat berdampak pada rantai pasok global, termasuk bahan baku kemasan berbasis plastik. Kondisi ini dinilai sebagai momentum untuk mempercepat inovasi industri kemasan dalam negeri.

“Situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini menjadi peluang untuk memacu peningkatan efisiensi sekaligus mempercepat inovasi kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan, pelaku industri mulai melakukan diversifikasi bahan kemasan, seperti kertas, kaca, logam, hingga plastik daur ulang seperti recycled PET (rPET). Menurutnya, sektor pulp dan kertas nasional menjadi salah satu tulang punggung dalam transformasi ini.

Ia menyebut, industri pulp dan kertas dalam negeri saat ini didukung 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. 

“Potensi pengembangan kemasan berbasis kertas sangat besar, terutama untuk kebutuhan ritel, industri mamin, e-commerce, dan logistik,” jelas Putu.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan bioplastik berbahan baku hayati seperti singkong dan rumput laut. Indonesia dinilai memiliki peluang besar karena merupakan salah satu produsen utama kedua komoditas tersebut.

Saat ini, kapasitas produksi bioplastik berbasis singkong tercatat sekitar 8 ribu ton per tahun, sedangkan berbasis rumput laut mencapai 28 ton per tahun.

Kemenperin menegaskan akan terus memantau dinamika global dan memperkuat kebijakan industri melalui diversifikasi bahan baku serta penguatan sektor hulu. 

"Langkah ini diharapkan mampu menjaga ketahanan industri agro nasional sekaligus meningkatkan daya saing di tengah tekanan eksternal," pungkas Putu. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI