Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Hilirisasi Buah Tropis Digenjot, Kemenperin Bidik Pasar Ekspor Global

Hilirisasi Buah Tropis Digenjot, Kemenperin Bidik Pasar Ekspor Global

Senin, 11 Mei 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Ilustrasi buah tropis. Hilirisasi Buah Tropis Digenjot, Kemenperin Bidik Pasar Ekspor Global. [Foto: Pexel]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian mulai serius mendorong hilirisasi industri buah tropis sebagai sumber baru pertumbuhan industri pengolahan nasional. Pemerintah menilai Indonesia selama ini masih terlalu bergantung pada ekspor buah segar, padahal produk olahan memiliki nilai tambah jauh lebih tinggi dan pasar global yang terus tumbuh.

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan hilirisasi kini tidak hanya difokuskan pada sektor tambang dan industri besar, tetapi juga menyasar industri kecil dan menengah (IKM), khususnya pelaku usaha pengolahan pangan berbasis buah tropis.

“Sudah saatnya kita tidak hanya mengekspor buah segar, tetapi juga menikmati nilai tambah dari produk olahan buah tropis khas Indonesia,” kata Agus, Senin (11/5/2026).

Pemerintah melihat potensi besar dari komoditas buah tropis Indonesia seperti pisang, mangga, nanas, durian, hingga manggis untuk dikembangkan menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi. Produk olahan tersebut mulai dari buah kaleng, buah kering, selai, jus, hingga bahan baku industri kosmetik dan makanan modern.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi pisang nasional pada 2024 mencapai 9,26 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$10,52 juta. Sementara produksi nanas mencapai 2,74 juta ton dengan nilai ekspor menembus US$316,1 juta. Adapun produksi mangga nasional mencapai 3,3 juta ton dengan pasar ekspor utama ke Singapura, Uni Emirat Arab, dan Malaysia.

Di sisi lain, pemerintah mengakui hilirisasi industri buah masih menghadapi sejumlah tantangan mulai dari pasokan bahan baku, teknologi pengolahan, hingga kualitas produk yang harus memenuhi standar internasional. 

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyebut pelaku IKM perlu didorong agar mampu meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing produk.

“Peluang pasar terbuka lebar, oleh sebab itu Kemenperin terus mendampingi IKM olahan buah agar bisa memenuhi standar jumlah dan kualitas pasokan, memiliki sertifikasi HACCP, dan mampu berinovasi dengan teknologi yang lebih modern agar produknya mampu bersaing di pasar domestik maupun global,” ujar Reni.

Melalui Direktorat Jenderal IKMA, Kemenperin juga mulai memperluas dukungan pembiayaan bagi pelaku industri pengolahan buah. Salah satu IKM binaan bahkan telah memperoleh pembiayaan Rp2 miliar untuk revitalisasi rumah produksi serta pengadaan mesin vacuum frying dan smart cold storage guna memenuhi permintaan pasar ekspor. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI