Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Investor Asing Gencar Lepas Saham, Rupiah Melemah di Akhir Januari

Investor Asing Gencar Lepas Saham, Rupiah Melemah di Akhir Januari

Sabtu, 31 Januari 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia
Nilai tukar rupiah. [Foto: Net via KemenPANRB]

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada akhir Januari 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat pelemahan rupiah seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan dan aksi jual investor asing di pasar domestik.

Pada penutupan perdagangan Kamis (29/1/2026), rupiah ditutup di level Rp16.745 per dolar AS. Tekanan berlanjut pada pembukaan perdagangan Jumat (30/1/2026) pagi, di mana rupiah dibuka melemah ke level Rp16.770 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang meningkat dari 6,35% menjadi 6,36%. Kenaikan yield tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar obligasi domestik di tengah aksi jual investor.

Dari sisi global, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah ke level 96,28, sementara imbal hasil US Treasury Note tenor 10 tahun turun ke level 4,231%. Meski kondisi global relatif mendukung mata uang negara berkembang, sentimen tersebut belum mampu mendorong penguatan rupiah.

Bank Indonesia juga mencatat peningkatan persepsi risiko terhadap Indonesia. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 29 Januari 2026 naik menjadi 75,31 basis poin, dibandingkan posisi 23 Januari 2026 sebesar 73,05 basis poin.

Tekanan di pasar keuangan domestik turut dipengaruhi oleh arus keluar modal asing. Berdasarkan data transaksi periode 26-29 Januari 2026, investor nonresiden tercatat melakukan jual neto sebesar Rp12,55 triliun. Aksi jual tersebut terutama terjadi di pasar saham dan pasar SBN, meskipun di saat yang sama investor asing masih mencatatkan pembelian bersih di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Meski demikian, secara kumulatif sepanjang tahun 2026 hingga 29 Januari, aliran modal asing masih menunjukkan kecenderungan positif. Investor nonresiden tercatat membukukan beli neto di pasar saham dan SRBI, sementara jual neto di pasar SBN relatif terbatas.

Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. [ra]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI